Berita, Nasional

Luhut: Dulu hilirisasi nikel dicibir, sekarang banyak yang antre ketemu Bahlil

Repelita.net

08 August 2026 15:20 WIB • 418 view

Luhut: Dulu hilirisasi nikel dicibir, sekarang banyak yang antre ketemu Bahlil
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Petinggi lembaga Dewan Ekonomi Nasional mengenang masa-masa awal penerapan kebijakan penghentian penjualan bijih logam ke luar negeri yang sempat menuai gelombang kritik tajam dari berbagai kalangan internasional maupun domestik.

Langkah strategis penghentian pengiriman bahan mentah tersebut mulai diterapkan secara penuh pada awal tahun sepuluh tahun silam berdasarkan ketentuan perundang-undangan pertambangan yang berlaku di tanah air.

ADVERTISEMENT

Berbagai tekanan berat hingga proses persidangan di badan perdagangan dunia sempat dihadapi oleh jajaran kabinet pemerintahan saat itu akibat keputusan berani tersebut.

"Saya masih ingat masa-masa awal larangan ekspor bijih nikel. Kami dicibir, kami ditekan dari berbagai arah, kami digugat sampai ke WTO, dan banyak yang bilang Indonesia tidak akan sanggup. Ada yang mentertawakan," ungkap Luhut saat Peluncuran dan Bedah Buku '10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia', di Djakarta Theatre. Jumat (7/8).

Kebijakan monumental tersebut digagas di bawah kepemimpinan kepala negara terdahulu ketika tokoh senior itu memegang portofolio koordinasi bidang kemaritiman dan investasi.

Transformasi ekonomi melalui pengolahan domestik kini terbukti membuahkan hasil manis setelah sempat dipandang sebelah mata oleh banyak pihak pada masa lalu.

Deretan pihak luar yang dulunya melontarkan ejekan kini justru berbalik arah dan mendatangi pejabat kementerian terkait demi bisa menanamkan modal di sektor pertambangan strategis tersebut.

"Sekarang, saya kira Pak Bahlil tegak berdiri mengatakan 'Kami Bisa'. Sebagian yang dulu mentertawakan itu justru sekarang antre minta bertemu dengan Pak Bahlil, mau ikut investasi. Saya tidak sebut nama, nanti acara bedah buku ini berubah jadi bedah yang lain," tutur Luhut.

Lonjakan drastis pada angka perolehan devisa ekspor nasional menjadi bukti nyata atas keberhasilan nilai tambah yang dihasilkan dari pabrik pengolahan domestik.

Wilayah sentra pengolahan baru yang sebelumnya tertinggal kini bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi regional dengan catatan angka kemajuan luar biasa setiap tahunnya.

"Morowali dan Halmahera Tengah yang dulu nyaris tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional, sekarang tumbuh dua digit yang menjadi bagian dari rantai pasok industri dunia," kata Luhut.

Pemberdayaan pelaku usaha dalam negeri turut menjadi sorotan penting agar pengusaha lokal tidak hanya menjadi penonton di bumi pertiwi sendiri.

Keberanian menerbitkan karya tulis yang memuat evaluasi terbuka terhadap berbagai insiden kecelakaan kerja serta masalah lingkungan mendapat apresiasi khusus dari tokoh senior tersebut.

"Ada persoalan lingkungan, ada persoalan keselamatan kerja yang merenggut nyawa, dan ini ditulis oleh Pak Bahlil secara terbuka. Mengkritik orang lain itu gampang, mengkritik pekerjaan sendiri di buku yang dicetak atas nama sendiri, itu yang jarang terjadi," ujarnya.

Peningkatan kapasitas pengusaha nasional diarahkan agar mampu menguasai teknologi modern serta memenuhi standar ketat pasar internasional yang semakin menuntut prinsip keberlanjutan.(*).

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung