Repelita Jakarta - Suasana percakapan antara Lucinta Luna dan Ivan Gunawan terasa ganjil sekaligus jujur, di mana tawa yang sesekali pecah diselingi jeda sunyi yang seolah menahan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hiburan permukaan .
Ketika Lucinta Luna duduk berhadapan dengan Ivan Gunawan di sebuah ruang obrolan daring, publik tidak hanya disuguhi tontonan ringan tetapi juga potongan perjalanan batin yang selama ini tersembunyi di balik sorotan lampu kamera .
ADVERTISEMENT
"Saya capek," ucap Lucinta dengan suara pelan nyaris seperti bisikan yang lepas tanpa sengaja, sebuah kalimat yang bukan sekadar keluhan melainkan akumulasi dari tekanan panjang meliputi identitas, ekspektasi publik, hingga pencarian makna diri .
Dalam satu momen yang mencuri perhatian, Lucinta secara terbuka meminta untuk dihubungi dengan nama lahirnya yaitu Muhammad Fatah, sebuah pernyataan yang langsung memantik respons khas Ivan Gunawan yang blak-blakan mengacu pada masa lalu operasi yang telah dijalani .
"Lah punya lu kan dah dipotong," ujar Ivan Gunawan dengan gaya candaan yang terdengar tajam namun kemudian percakapan itu bergerak ke wilayah yang lebih reflektif dan mendalam .
Lucinta mengaku telah lama meninggalkan amalan ibadah, bahkan menyebut hampir satu dekade tanpa menjalankan shalat, namun momen Idulfitri baru-baru ini menjadi titik balik yang tidak pernah disangkanya .
Ia menggambarkan getaran haru yang menyergap saat suara takbir berkumandang, khususnya bagian "Allahu Akbar" yang diulang berkali-kali justru menjadi titik runtuhnya pertahanan batin yang selama ini ia bangun .
Tangis, kata Lucinta, telah menjadi teman yang setia hampir setiap malam bukan karena satu sebab tunggal melainkan tumpukan tuntutan dari netizen, dari lingkungan sosial, bahkan dari desakan batinnya sendiri .
"Hidup gue kayak diatur orang," ujar Lucinta dalam pengakuan yang menyiratkan ironi mendalam karena secara hukum ia diakui sebagai perempuan namun penilaian publik terasa lebih dominan dibandingkan legitimasi negara .
Percakapan kemudian membuka lapisan lain tentang perjalanan panjang operasi, terapi hormon yang dijalani bertahun-tahun, hingga lebih dari 30 prosedur medis yang ia lalui demi mencapai bentuk fisik yang diinginkan selama ini .
Namun kini Lucinta justru menafsirkan ulang makna "kesempurnaan" dengan menyatakan bahwa tidak ada titik akhir dalam mengejar bentuk fisik karena kesempurnaan sejati milik Allah semata .
Tekanan sosial yang luar biasa juga membentuk jarak dengan lingkungan terdekat, bahkan Lucinta mengaku pernah menjauh dari keluarga karena merasa menjadi "aib" yang memalukan untuk ditunjukkan .
Dalam hubungan pribadinya, ia merasakan kekecewaan yang berulang kali hadir karena memiliki banyak anggota tetapi tidak selalu mendapatkan ketulusan yang sebanding dari mereka .
Menariknya di tengah segala tekanan itu, muncul keinginan kuat untuk memulai ulang kehidupan dan Korea Selatan disebut sebagai kemungkinan tempat baru bukan sekadar pelarian melainkan ruang untuk membangun kembali hubungan dan identitas .
Ia ingin belajar, menata hidup, dan yang paling ditekankan adalah mencari ketenangan batin yang selama ini terasa sangat jauh dari jangkauan .
Di penghujung percakapan, suasana berubah menjadi lebih hening tanpa lagi candaan tajam, hanya nasihat sederhana dari Ivan Gunawan yang mengatakan bahwa hidup tidak harus disukai banyak orang .
Cukup tidak menyusahkan orang lain, itu sudah cukup untuk menjalani hari-hari dengan lebih ringan dan bermakna .
Lucinta mengangguk pelan mendengar nasihat tersebut, mungkin bukan tanda sepenuhnya yakin namun setidaknya ada pengakuan jujur bahwa perjalanan hidupnya masih jauh dari kata selesai .
Ia masih berada di tengah proses panjang antara masa lalu, tekanan hari ini, dan harapan akan versi dirinya yang lebih tenang di masa depan yang belum pasti bentuknya .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok