Berita, Nasional

Kritik konten mindfulness Maudy Ayunda dianggap tak peka realitas sosial, akhirnya minta maaf dan akui privilege

Repelita.net

15 September 2026 19:48 WIB • 379 view

Kritik konten mindfulness Maudy Ayunda dianggap tak peka realitas sosial, akhirnya minta maaf dan akui privilege
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Konten video bertajuk kesehatan mental yang diunggah Maudy Ayunda mendadak memicu gelombang kritik pedas dari warganet karena dinilai tidak sensitif terhadap realitas kehidupan masyarakat.

Pengaruh lanskap informasi dan fenomena krisis sosial yang marak diberitakan membuat ajakan untuk mengambil jarak dari berita buruk dianggap sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap warga yang terdampak langsung.

ADVERTISEMENT

Sejumlah pihak menilai gagasan untuk berhenti mengonsumsi berita buruk hanya bisa dilakukan oleh kelompok masyarakat yang memiliki privilese ekonomi dan sosial tertentu.

"Pada saat kita membaca berita buruk yang sebegitu banyak tidak apa-apa untuk memutuskan kapan Anda selesai. Anda tidak perlu membaca konten ke-15 tentang berita itu kayak it's oke kok untuk tau kayak ‘oke aku akan berhenti di sini, aku mengerti apa yang sedang terjadi’," kata Maudy dikutip dari kanal YouTube Maudy Ayunda, Selasa (15/9/2026).

Maudy Ayunda juga menyarankan agar konsumsi berita buruk dihentikan demi menjaga kondisi psikologis serta kesehatan mental individu.

"Aku akan mungkin suka ngobrol dengan suamiku ngobrol dengan istriku, ngobrol dengan siapa pun tentang hal itu tetapi aku akan berhenti mengonsumsinya karena aku merasakan efeknya pada diriku’. Tidak apa-apa untuk menetapkan batas itu. Kita tidak harus ngelihat konten yang ke-10 tentang hal yang sama," sambungnya.

Pernyataan tersebut memicu tudingan bahwa sang edukator bersikap buta terhadap realitas atau tone deaf menghadapi krisis yang dialami masyarakat luas.

Menanggapi kontroversi tersebut, Maudy Ayunda akhirnya menyampaikan klarifikasi terbuka dan memohon maaf atas kekurangannya dalam menyusun narasi.

"Mampu menjauh dari berita itu sendiri merupakan suatu privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Saya mohon maaf karena bagian ini belum cukup saya refleksikan di videonya," tulis Maudy dalam kolom komentar videonya.

Ia berjanji akan menjadikannya pelajaran berharga dan menekankan bahwa kontennya tidak bermaksud mengajak publik bersikap acuh tak acuh.

"I’m listening and learning," tulisnya.

Ia menegaskan kembali bahwa imbauan mengenai kesadaran diri bukan ditujukan untuk mengabaikan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

"Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja," ujarnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung