Repelita [Jakarta] - Manuver hukum dan kritikan bertubi-tubi yang dilancarkan pakar hukum tata negara terhadap wakil presiden petahana menuai respons keras dari kalangan loyalis istana.
Ketua Umum Jokowi Mania Nusantara, Andi Azwan, menilai intensitas serangan terhadap dokumen pendidikan tersebut harus dipandang melalui lensa rekam jejak politik sang kritikus yang bersangkutan.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, langkah aktif yang dilakukan mantan wakil menteri tersebut terkesan sarat dengan kepentingan ambisi politik pribadi guna menjaga relevansi di ruang publik.
“Denny begitu berapi-api yah, getol sekali untuk mengulik ijazah dari Mas Gibran. Hal itu dilakukan dengan melakukan sayembara yang sekarang sudah mencapai Rp250 juta,” ujar Andi, dikutip Sabtu, 15 Agustus 2026.
Andi menyoroti serangkaian kegagalan politik sang pakar, mulai dari kekalahan pada pilkada tingkat provinsi hingga kegagalan dalam kontestasi legislatif tingkat nasional.
“Denny ini sebelumnya kita ketahui adalah kader salah satu partai, kemudian dia mengikuti kontestasi Pilkada di Kalimantan Selatan, tapi tidak beruntung,” ucap Andi.
Selain rekam jejak elektoral, keterlibatan aktifnya dalam sengketa hukum di Mahkamah Konstitusi pada tahun 2020 silam juga dinilai berakhir tanpa hasil memuaskan.
“Di 2020, mengajukan di mahkamah saat itu ketuanya pak Anwar Usman. Yang terjadi ditolak permohonan Denny,” ungkapnya.
Rangkaian peristiwa tersebut memicu kecurigaan bahwa aksi sayembara berhadiah ratusan juta rupiah hanyalah strategi untuk mendulang atensi publik semata.
“Kemudian mencoba lagi peruntungan sebagai Caleg dari Demokrat. Namun juga gagal kembali,” tutur Andi.
Pihak pendukung istana pun menyimpulkan bahwa aksi tersebut tidak lebih dari upaya mencari panggung politik di tengah memudarnya pengaruh sang pakar hukum.
“Jadi kalau kita lihat di sini, ini adalah semacam pansos lah,” kuncinya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok