Berita, Timur Tengah

Israel Diam-diam Bangun Pangkalan Rahasia di Irak untuk Serang Iran

Repelita.net

10 May 2026 22:07 WIB • 767 view

Israel Diam-diam Bangun Pangkalan Rahasia di Irak untuk Serang Iran
Foto: Istimewa

Repelita [Baghdad] - Wall Street Journal melaporkan adanya instalasi militer rahasia milik Israel yang dibangun di tengah gurun Irak sebagai basis dukungan operasional udara dalam menghadapi Iran.

Pejabat Amerika Serikat yang memahami persoalan tersebut mengungkapkan bahwa pos terdepan ini didirikan sesaat sebelum pecahnya kampanye militer gabungan antara AS dan Israel terhadap Teheran pada pengujung Februari lalu.

ADVERTISEMENT

Fungsi utama dari fasilitas rahasia yang menampung pasukan khusus Zionis ini adalah sebagai pusat logistik strategis serta markas tim pencarian dan penyelamatan bagi pilot yang kemungkinan jatuh saat menjalankan misi.

Keberadaan pangkalan tersebut nyaris terendus pada awal Maret ketika seorang penggembala lokal mencurigai aktivitas udara yang tidak lazim dan segera melaporkan temuan tersebut kepada aparat keamanan setempat.

Respons militer Irak yang berupaya melakukan investigasi ke lokasi justru disambut dengan hujan tembakan sengit hingga menyebabkan satu orang tentara nasional mereka tewas dan dua personil lainnya mengalami luka-luka.

Pihak berwenang di Baghdad semula mengarahkan tuduhan kepada Washington setelah tim investigasi menemukan bukti otentik adanya operasi personil militer asing yang bergerak di luar koordinasi resmi pemerintah pusat.

Wakil komandan Komando Operasi Gabungan Irak, Letnan Jenderal Qais Al-Muhammadawi, menyatakan kepada media pemerintah bahwa “Tampaknya ada kekuatan tertentu di darat sebelum serangan, yang didukung dari udara, beroperasi di luar kemampuan unit-unit kami.”

Jenderal bintang tiga tersebut juga menekankan kritik keras terhadap tindakan sepihak militer asing dengan menegaskan bahwa “Operasi gegabah ini dilakukan tanpa koordinasi atau persetujuan.”

Kehadiran pangkalan di gurun Irak ini memberikan keuntungan taktis yang signifikan bagi Israel untuk memangkas jarak tempuh jet tempur mereka yang harus menempuh lebih dari 1.600 kilometer menuju wilayah Iran.

Selama lima pekan agresi udara berlangsung, titik perbatasan ini menjadi lokasi krusial bagi ribuan misi serangan udara jarak jauh yang dilakukan oleh angkatan udara Israel terhadap target-target di dalam Iran.

Mantan kepala kontra-terorisme AS, Joe Kent, yang meletakkan jabatan sebagai bentuk protes pada Maret lalu, melontarkan tuduhan bahwa Israel sengaja menyeret Amerika Serikat ke dalam jurang peperangan.

Dalam argumennya, Kent menyebut bahwa penilaian intelijen sebenarnya menunjukkan Teheran tidak secara aktif mengembangkan senjata nuklir, namun narasi ancaman yang dibangun Israel justru lebih dipercaya oleh pembuat kebijakan di Washington.

Peringatan dari berbagai badan intelijen mengenai potensi aksi balas dendam Iran yang menargetkan pangkalan Amerika serta ancaman penutupan Selat Hormuz seolah terabaikan karena desakan kepentingan konflik tersebut.

Di sisi lain, Menteri Perang AS Pete Hegseth membela kebijakan pemerintahan Trump dengan menyatakan bahwa segala tindakan militer yang diambil murni didasarkan pada kepentingan nasional dan doktrin utama kebijakan luar negeri mereka.

Hegseth secara tegas menepis tudingan keterlibatan Amerika karena tekanan Benjamin Netanyahu dan menyatakan bahwa anggapan Israel menyeret AS ke dalam peperangan merupakan sebuah "premis yang salah."(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung