Repelita Washington DC - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah media Israel mengabarkan adanya tekanan kuat dari rezim Zionis agar Amerika Serikat melancarkan serangan presisi ke infrastruktur energi Iran.
Serangan itu didesak untuk berlangsung dalam operasi singkat yang tidak melebihi durasi 24 jam.
ADVERTISEMENT
Laporan yang dimuat Channel 12 Israel pada 9 Mei 2026 ini muncul di tengah gigihnya upaya diplomasi antara pemerintahan Trump dan Teheran.
Waktu kemunculan desakan ini dinilai bukan kebetulan oleh media tersebut.
Channel 12 menyebutkan bahwa waktu dari usulan ini bukan kebetulan.
“AS diminta Washington menyerang infrastruktur energi Iran dalam operasi yang berlangsung tidak lebih dari 24 jam,” demikian kutipan laporan yang beredar.
"Melainkan bertepatan dengan pendekatan kesepakatan potensial, karena Israel berupaya menyabotase itu,” tulis laporan tersebut menambahkan.
Situasi ini terjadi persis ketika Presiden Donald Trump disebut tengah mendorong keras tercapainya kesepakatan mendesak dengan Iran.
Trump dikabarkan ingin membawa pulang pencapaian politik besar sebelum dirinya bertolak melakukan kunjungan kenegaraan ke China.
Para pengamat menilai langkah ini sebagai upaya Washington menurunkan suhu ketegangan dengan Teheran demi menjaga stabilitas ekonomi global, khususnya sektor energi.
Namun di sisi lain, Israel justru diliputi kekhawatiran bahwa kesepakatan AS-Iran akan memperkuat posisi Republik Islam di kawasan.
Media Haaretz sebelumnya juga mengabarkan adanya kegelisahan di internal politik Israel terkait meningkatnya pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah.
Krisis di Selat Hormuz yang semakin memanas dalam beberapa pekan terakhir ikut memperbesar tensi geopolitik ini.
Teheran telah berulang kali mengeluarkan peringatan bernada keras terhadap kapal militer asing yang berani memasuki wilayah perairan strategis tersebut.
Sebagai bentuk kesiapan, Republik Islam juga memamerkan kemampuan militernya lewat latihan rudal, operasi armada drone, hingga patroli intensif di jalur energi dunia itu.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital karena nyaris 20 persen pasokan minyak global melintas setiap hari di sana.
Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini dapat langsung memicu lonjakan harga energi dunia secara instan.
Di tengah tekanan yang meningkat ini, Donald Trump disebut membutuhkan sebuah pencapaian diplomatik untuk memperkuat posisi politik Washington di mata dunia.
Kesepakatan dengan Iran dipandang krusial karena dapat membantu menstabilkan pasar minyak global yang sedang tertekan akibat konflik berkepanjangan.
Selain itu, Washington juga tengah bersaing keras secara ekonomi dengan Beijing.
Trump ingin membawa hasil nyata sebelum bertemu pemimpin China untuk menunjukkan keberhasilan kebijakan luar negerinya.
“Ini terjadi saat Trump mendorong untuk menandatangani kesepakatan mendesak sebelum kunjungannya ke China, agar dapat dipresentasikan kepada presiden China sebagai pencapaian politik,” demikian isi laporan yang dikutip dari sumber terkait.
Namun upaya tersebut tidak berjalan mulus.
Republik Islam tetap pada pendirian kerasnya terkait pencabutan sanksi ekonomi dan keberadaan militer AS di kawasan Teluk Persia.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sebelumnya telah menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah tunduk terhadap tekanan militer dalam bentuk apa pun.
“Setiap kali solusi diplomatik ada di meja perundingan, Amerika Serikat memilih petualangan militer yang sembrono,” tegas Araghchi dalam pernyataan resmi yang dimuat media pemerintah Iran.
Di tengah semua ini, Iran terus mempererat hubungan ekonomi dengan China dan Rusia.
Ketiga negara ini semakin sering disebut sebagai poros Eurasia baru yang berani menantang dominasi Barat.
China tercatat sebagai pembeli utama minyak Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara Moskow dan Teheran terus memperluas kerja sama di sektor energi, perdagangan, serta membangun sistem pembayaran non-dolar.
Langkah ini jelas memicu kekhawatiran Gedung Putih terhadap kemunculan blok ekonomi alternatif yang dapat menggerus pengaruh AS.
Ketegangan semakin menjadi setelah Iran dikabarkan mulai mengurangi ketergantungan pada dolar dalam sejumlah transaksi strategisnya.
Bahkan sejumlah pejabat di Teheran menyebut sistem pembayaran baru di kawasan Teluk Persia bisa menggunakan mata uang lokal atau berbagai mekanisme alternatif lainnya.
Para analis energi dari Middle East Institute menilai perubahan fundamental ini berpotensi mengubah peta perdagangan energi dunia dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Washington juga menghadapi tekanan internal yang tidak ringan terkait kebijakan Timur Tengahnya.
Media The Guardian sebelumnya melaporkan suasana di Pentagon disebut sedang mengalami kekacauan akibat meningkatnya ketegangan regional dan kekhawatiran akan potensi perang besar.
Karena situasi itulah, Washington kini harus berhitung sangat hati-hati sebelum mengambil langkah militer langsung terhadap Republik Islam.
Kini pusat ketegangan tampaknya mulai bergeser dan terpusat di sekitar Selat Hormuz.
Kawasan ini menjelma menjadi titik panas karena menjadi jalur utama ekspor minyak dari Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan Amerika.
Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan tersebut dipenuhi oleh ketegangan dan gerak-gerik militer yang intens.
Republik Islam beberapa kali mengklaim berhasil memaksa kapal perang AS mundur dari area tertentu di sekitar Selat tersebut.
Sementara Pentagon membantah mengalami kerusakan berarti dan menyebut operasi mereka tetap berjalan normal seperti biasa.
Meski demikian, pasar global tetap merespons situasi ini dengan sangat serius.
Harga minyak dunia sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran terganggunya distribusi energi internasional.
Laporan dari Reuters dan CNBC menyebut sejumlah perusahaan pelayaran mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko konflik terbuka di Teluk Persia.
Sejumlah negara Asia juga mulai memantau situasi dengan cermat lantaran sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.
China, Jepang, Korea Selatan, dan India menjadi negara-negara yang paling rentan jika Selat Hormuz mengalami gangguan berkepanjangan.
Iran sendiri terus memperlihatkan sikap militannya.
IRGC beberapa kali mengeluarkan peringatan terhadap negara-negara yang dianggap mendukung setiap operasi militer AS di kawasan.
Teheran menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan respons keras terhadap setiap bentuk agresi yang dilancarkan.
“Republik Islam, seperti sebelumnya, akan memberikan respons kuat dan tanpa ragu terhadap tindakan provokasi atau agresi apa pun,” demikian pernyataan militer Iran yang dikutip oleh Tasnim News.
Sementara itu, Israel terus meningkatkan tekanan diplomatik kepada sekutu utamanya, Washington.
Pemerintah Israel menilai Iran hanya memanfaatkan meja negosiasi untuk memperkuat kapasitas militer dan ekonominya secara diam-diam.
Para pejabat keamanan Israel percaya bahwa serangan cepat terhadap infrastruktur energi Iran merupakan cara paling efektif untuk memaksa Teheran menerima kesepakatan dengan syarat-syarat Barat.
Namun banyak analis internasional memperingatkan bahwa tindakan nekat tersebut justru berisiko memicu perang regional berskala jauh lebih besar.
Iran memiliki jaringan sekutu dan kelompok bersenjata yang tersebar di berbagai kawasan Timur Tengah, seperti Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman.
Konflik terbuka diyakini akan berdampak langsung terhadap stabilitas global dan menghancurkan ekonomi dunia.
Apalagi saat ini hubungan Teheran dengan Beijing dan Moskow semakin hari semakin erat.
China dan Rusia diperkirakan tidak akan tinggal diam jika konflik besar benar-benar pecah di kawasan Teluk.
Analis geopolitik kenamaan, Pepe Escobar, bahkan menyebut dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar yang baru.
Menurutnya, pengaruh AS perlahan mulai tergusur oleh kerja sama strategis antara poros Iran, Rusia, dan China.
Kini seluruh mata dunia tertuju pada langkah berikutnya yang akan diambil Washington.
Pertanyaan besarnya adalah apakah Trump akan memilih jalur diplomasi demi menjaga stabilitas ekonomi global, atau justru tunduk pada tekanan kelompok garis keras yang mendorong aksi militer.
Satu hal yang pasti, perkembangan terbaru ini menegaskan bahwa Timur Tengah kembali menjadi pusat perebutan pengaruh global yang mampu mengubah peta geopolitik dunia dalam waktu sangat singkat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok