Repelita [Jakarta] - Pembentukan aliansi militer baru yang melibatkan tiga negara Muslim yakni Arab Saudi, Turki, dan Pakistan memicu respons riak kewaspadaan dari pihak pemerintah Iran.
Kesepakatan pertahanan yang ditandatangani di kota suci Mekkah pada Jumat (7/8/2026) tersebut menuai sorotan tajam lantaran dinilai sebagai bagian dari pembentukan konstelasi keamanan baru yang berpotensi menyudutkan posisi Teheran.
ADVERTISEMENT
Kesepakatan bernama Pakta Pertahanan Mekkah tersebut memuat klausul krusial yang menegaskan bahwa tindakan agresi militer terhadap salah satu anggota akan dipandang sebagai serangan langsung terhadap seluruh negara peserta.
Merespons perkembangan situasi geopolitik tersebut, Anggota Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ibrahim Rezaei menyampaikan peringatan terbuka kepada pemerintah Arab Saudi.
Melalui akun X pribadinya yang diunggah pada Minggu (9/8/2026), Rezaei mengingatkan bahwa jaminan keamanan kawasan tidak bisa digantungkan pada lembaran perjanjian tertulis di atas kertas belaka.@EbrahimRezaei
_
"Arab Saudi harus memahami bahwa kesepakatan di atas kertas dengan Turki dan Pakistan tidak akan memberi mereka keamanan, sama seperti bertahun-tahun menjadi tuan rumah eksklusif bagi Amerika tidak memberi mereka keamanan. Perbaiki kebijakan Anda sehingga Anda tidak perlu meminta keamanan dari orang lain," kata Rezaei.
Di sisi lain, respons yang cenderung terukur dan menggunakan bahasa diplomatis disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Meskipun menghindari penyebutan langsung terhadap pakta pertahanan tersebut, Araghchi menyerukan kepada seluruh komponen dunia Islam agar mengedepankan asas kemandirian kolektif serta semangat persaudaraan dalam menjaga stabilitas kawasan regional.
"Saatnya telah tiba bagi kita untuk hanya mengandalkan diri sendiri dan mengadopsi pendekatan persaudaraan sejati," tulisnya.
Pandangan senada turut dipaparkan oleh Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran untuk Urusan Internasional Ali Akbar Velayati yang mendesak penataan sistem keamanan Timur Tengah secara internal.
Ia menggarisbawahi perlunya penguatan kerja sama antarnegara kawasan sekaligus mendesak penarikan penuh seluruh kekuatan militer asing yang dinilai sebagai pemantik utama timbulnya instabilitas. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok