Berita, Timur Tengah

Iran Klaim Kuasai Selat Hormuz, Siapkan Aturan dan Tarif Pelayaran Global

Repelita.net

30 April 2026 15:07 WIB • 1,049 view

Iran Klaim Kuasai Selat Hormuz, Siapkan Aturan dan Tarif Pelayaran Global
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Iran dengan tegas mengumumkan posisinya sebagai penguasa penuh kawasan Selat Hormuz pasca berakhirnya konflik bersenjata dengan Amerika Serikat.

Mereka bahkan telah menyiapkan skema regulasi yang tepat dan komprehensif untuk diterapkan setelah nantinya perang dengan Amerika Serikat benar-benar berakhir.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari kantor berita resmi Tasnim pada Kamis, 30 April 2026, Republik Islam itu menegaskan bakal mengatur seluruh aktivitas pelayaran di selat strategis tersebut.

Hal itu disampaikan secara langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik, dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi.

"Seluruh aktivitas pelayaran nantinya harus mengikuti aturan yang ditetapkan Teheran (Iran)," kata pejabat tinggi militer tersebut dengan nada tegas.

Pernyataan itu disampaikan Talaeni-Nik dalam pertemuan para Menteri Pertahanan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kyrgyzstan.

Republik Islam tersebut menegaskan kembali bahwa aturan baru ini akan diberlakukan secara khusus bagi kapal-kapal komersial dari berbagai negara.

Dilansir dari kanal YouTube Kompas, setiap kapal yang melintas diwajibkan untuk mematuhi seluruh protokol yang telah dirancang dengan cermat.

Protokol tersebut dibuat semata-mata untuk menjamin keamanan nasional negara tersebut dari potensi ancaman asing di masa depan.

Tak hanya itu, Teheran juga berencana menyusun skema navigasi bersama dengan Oman yang menguasai sisi selatan Selat Hormuz.

Dalam skema kerja sama bilateral tersebut, Teheran juga membuka kemungkinan untuk menarik biaya transit dari kapal-kapal yang melintas.

Parlemen di Teheran bahkan telah mengajukan rancangan regulasi resmi terkait sistem pungutan atau retribusi pelayaran ini.

Sementara itu, Bank Sentral Iran dilaporkan telah menyiapkan empat rekening khusus dalam berbagai mata uang asing.

Keempat rekening tersebut masing-masing dalam mata uang riyal, yuan China, dolar Amerika, dan euro untuk menampung pembayaran dari aktivitas pelayaran.

Wacana penguasaan penuh selat ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi damai antara Teheran dan Washington yang berkepanjangan.

Di lain sisi, Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan ekonomi dan militer terhadap Republik Islam tanpa henti.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menginstruksikan persiapan blokade lanjutan yang lebih ketat terhadap Teheran.

Laporan dari media terkemuka The Wall Street Journal menyebutkan bahwa langkah itu ditujukan untuk menekan ekonomi Teheran hingga titik terendah.

Tujuan utamanya adalah mencegah ekspor minyak Iran yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian negara tersebut.

Washington disebut lebih memilih mempertahankan blokade dibandingkan opsi lain seperti melanjutkan serangan militer atau menarik diri.

Adapun blokade yang akan diberlakukan itu mencakup pembatasan total lalu lintas pelayaran dari dan ke seluruh pelabuhan Iran.

Sebelumnya, berbagai upaya diplomasi antara Teheran dan Washington masih belum menemui titik temu yang disepakati bersama.

Sejak gencatan senjata pertama kali diumumkan pada 8 April 2026 dan kemudian diperpanjang atas permintaan Pakistan, situasi masih tegang.

Hingga saat ini, belum ada kesepakatan final yang mampu mengakhiri konflik berkepanjangan antara dua negara tersebut.

Sementara itu, dosen keamanan internasional di King's College London Rob Geist Pinfold memberikan analisisnya tentang situasi terkini.

Ia menilai bahwa kedua negara yang tengah bertikai ini sedang menunjukkan kekuatan atau power mereka masing-masing secara maksimal.

Baik saat perang fisik berlangsung di darat dan laut, maupun dalam perundingan yang dimediasi oleh pemerintah Pakistan.

"Kita telah melewati tahap, setidaknya untuk saat ini, untuk perang fisik, tetapi kita masih berada dalam tahap persaingan sengit," ujarnya.

Menurut dia, kedua pihak pada dasarnya mencoba memberi sinyal kepada pihak lain bahwa mereka memiliki lebih banyak ketahanan.

Mereka ingin menunjukkan bahwa waktu ada di pihak mereka, bukan di pihak lawan yang sedang kehabisan opsi.

Teheran sedang menunda semua masalah sulit dengan memprioritaskan pengakhiran perang dan pembukaan Selat Hormuz terlebih dahulu.

"[Tetapi] ini sama sekali tidak berhasil bagi Amerika karena mereka merasa jika mereka melepaskan pengaruh yang mereka miliki, perang dapat berlanjut," ujarnya.

"Iran tahu bahwa, jika mereka melepaskan itu (Selat Hormuz), maka mereka pada dasarnya melepaskan kartu terbaik mereka," tambah pengamat tersebut.

Di sisi lain, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut bahwa Amerika Serikat kini sedang dipermalukan dalam perangnya melawan Iran.

Dilansir dari media Al Jazeera, menurut Merz, pemerintahan Washington saat ini tak punya jalan keluar yang jelas dari konflik berdarah tersebut.

Ia lantas menilai bahwa Teheran kini semakin unggul dalam pertempuran melawan Amerika Serikat dan sekutu lamanya Israel.

Hal itu disampaikan Merz saat berbicara di hadapan para mahasiswa di Kota Marburg, Jerman pada Senin, 27 April 2026.

Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Merz menyebut situasi di Iran telah mengungkap masalah strategis yang lebih dalam bagi kekuatan AS.

Ia kemudian membandingkannya dengan kegagalan militer negeri Paman Sam itu di masa lalu yang penuh dengan pelajaran pahit.

AS saat ini berisiko terjebak dalam situasi sulit yang serupa dengan perang melawan Irak dan Afghanistan beberapa dekade lalu.

Lebih lanjut Merz berpendapat bahwa para pejabat Teheran bernegosiasi dengan sangat terampil dan cerdik di meja perundingan.

Mereka tampak jauh lebih kuat dan percaya diri dari yang diperkirakan oleh publik dan para analis internasional.

Atas dasar penilaian itulah ia menyebut seluruh bangsa Amerika telah dipermalukan oleh kepemimpinan Iran yang tangguh.

Ia secara khusus menyebut bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah berhasil mempermalukan militer AS di berbagai lini.

Merz lantas mendesak agar perang yang sudah memakan banyak korban ini segera diakhiri karena dampak buruknya mulai terasa.

Dampak negatif tersebut sudah mulai memukul perekonomian Jerman yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi.

Pemimpin Jerman itu juga mengatakan bahwa pihaknya siap mengerahkan kapal penyapu ranjau untuk membantu mengamankan jalur pelayaran.

Komentar kesiapan ini disampaikannya di tengah meningkatnya kekhawatiran di seluruh Eropa mengenai dampak konflik yang lebih luas.

Kekhawatiran tersebut mencakup gangguan pasokan energi dan ketidakstabilan ekonomi yang bisa memicu resesi di Eropa.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul memperingatkan bahwa ancaman nuklir terus mempengaruhi kondisi keamanan global.

Bahkan ketika Berlin menegaskan kembali komitmen teguhnya terhadap prinsip nonproliferasi senjata pemusnah massal.

Jerman dan Prancis baru-baru ini mengambil langkah strategis untuk memperdalam kerja sama dalam hal pencegahan nuklir.

Kerja sama erat itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di Benua Biru atas perang Iran dan ketidakstabilan regional yang lebih luas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung