Repelita Washington - Upaya Amerika Serikat untuk membujuk Iran agar bersedia hadir di meja perundingan terus dilakukan di tengah eskalasi militer yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah .
Presiden AS Donald Trump belum lama ini telah mengumumkan gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu, sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya terakhir untuk meredakan ketegangan .
ADVERTISEMENT
Menanggapi hal itu, pihak Teheran justru menegaskan bahwa mereka tidak pernah meminta gencatan senjata dan menganggap pernyataan Trump sebagai bukti bahwa Amerika telah kalah di medan perang .
Bahkan menurut pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati, jika perang berlanjut dalam waktu yang lama bukan tidak mungkin Iran bakal menargetkan kota-kota besar di Amerika secara langsung .
"Kalau misalnya ini perang berkepanjangan hingga 6 bulan katakan, kan juga ekonomi dunia ini kan juga harus dipikirkan begitu. Juga harus diketahui, bahwa Iran itu berencana menyerang langsung ke Amerika Serikat jika perang pecah," katanya dikutip pada Sabtu (25/4/2026) .
"Jadi Teheran telah menempatkan kembali ya, kemungkinan menggunakan rudal balistik antar benua yang disebut terkenal Mazio," sambung Susaningtyas menjelaskan kemampuan militer Iran .
"Mazio ini mampu mencapai Washington DC dan New York dengan jangkauan fantastis hingga 10.000 km," ujarnya mengungkapkan data teknis rudal tersebut .
Rudal Mazio merujuk pada pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) dan hipersonik canggih yang dirancang untuk serangan presisi jarak jauh dengan jangkauan teoritis mencapai 10.000 km dan kecepatan di atas Mach 5 .
"Jadi sebenarnya Amerika juga menghitung hal itu," ucap Susaningtyas menambahkan bahwa ancaman Iran bukan sekadar gertakan melainkan nyata dan bisa benar-benar terjadi .
Di sisi lain, Presiden Trump justru semakin terjepit oleh aturan hukum domestik Amerika Serikat terkait batas waktu pengerahan pasukan ke luar negeri .
Tanggal 1 Mei 2026 akan menjadi hari terakhir bagi Trump untuk mempertahankan pasukan AS dalam perang menghadapi Iran tanpa persetujuan resmi dari Kongres .
Berdasarkan resolusi kekuatan perang tahun 1973, seorang presiden AS hanya diizinkan mengirim pasukan ke luar negeri selama 60 hari tanpa persetujuan kongres .
Perang dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, namun Trump baru secara resmi memberitahukan operasi itu kepada Kongres pada 2 Maret 2026 sehingga perhitungan 60 hari dimulai dari tanggal tersebut .
Partai Demokrat telah berulang kali mencoba menggunakan resolusi perang 1973 untuk menghentikan operasi militer di Iran, namun upaya mereka selalu diblokir oleh Fraksi Republik di senat .
Kini keretakan mulai terlihat di internal Partai Republik sendiri karena sejumlah anggota parlemen mulai memberikan sinyal tidak akan menyetujui perpanjangan waktu tanpa rencana penyelesaian yang jelas .
Senator Republik dari Utah, John Curtis, dan perwakilan Florida, Brian Mast yang menjabat sebagai Ketua Komite Urusan Luar Negeri, termasuk di antara yang menyuarakan penolakan .
Jika dukungan internal ini runtuh, Trump akan dipaksa untuk mengakhiri konflik atau menghadapi krisis konstitusi yang jauh lebih berbahaya .
Cara paling legal bagi Trump untuk mempertahankan pasukannya adalah dengan meminta persetujuan eksplisit dari kongres, langkah yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2002 saat AS menyerang Irak .
Senator Republik Lisa Murkowski dari Alaska dilaporkan sedang menyusun resolusi resmi terkait penggunaan kekuatan militer terhadap Iran, namun resolusi itu hingga kini masih belum diajukan .
Undang-Undang Kekuasaan Perang juga menyediakan masa perpanjangan selama 30 hari dengan syarat ketat hanya untuk fasilitasi penarikan pasukan AS secara aman, bukan untuk serangan baru .
Jika Trump gagal meyakinkan para anggota parlemen mengenai tujuan, biaya, dan jadwal perang, maka ia akan kehilangan legitimasi untuk terus menekan Teheran .
Ada kemungkinan Trump akan berupaya mengakali atau mengabaikan aturan tersebut dengan berargumen bahwa konstitusi memberikan wewenang luas kepada panglima tertinggi .
Namun mengulangi tindakan kontroversial di tengah perang Iran yang berisiko tinggi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada karir politiknya .
Usaha Donald Trump untuk memenangkan perang kini berpacu dengan waktu dan batasan konstitusi Amerika Serikat yang semakin menyempit .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok