Repelita Ternate - Insiden pembubaran paksa terhadap kegiatan pemutaran karya film berjudul Pesta Babi dilaporkan kembali terjadi dan mengundang gelombang protes dari kalangan mahasiswa serta aktivis hak asasi manusia di berbagai penjuru daerah.
Tindakan represif ini kini merambah hingga ke wilayah Ternate setelah sebelumnya kegiatan diskusi serupa di Universitas Mataram atau Unram juga dihentikan secara sepihak oleh jajaran birokrasi kampus melalui keputusan wakil rektor.
ADVERTISEMENT
Fenomena pembatasan berekspresi tersebut menjadi perbincangan hangat di dunia maya setelah akun media sosial X MurtadhaOne1 membagikan informasi mengenai pembubaran paksa tersebut pada tanggal 9 Mei 2026.
Dalam unggahan di platform tersebut, akun tersebut menyampaikan kritik terbuka dan mempertanyakan ketakutan pemerintah dengan menuliskan: Setelah nobar film Pesta Babi di Unram (Lombok) dibubarkan warek, sekarang Ternate dibubarkan tentara. Mengapa pemerintah takut dengan film? Unram Ternate.
Langkah otoritas yang melibatkan unsur aparat keamanan dalam membubarkan acara diskusi dan nonton bareng ini dinilai sebagai bentuk ancaman serius terhadap iklim demokrasi serta kebebasan akademik di lingkungan institusi pendidikan tinggi.
Para penyelenggara acara di berbagai daerah kini mulai menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap masa depan kreativitas serta kebebasan intelektual para pemuda yang kian terhimpit oleh beragam bentuk intervensi dari oknum penguasa.
Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah pusat maupun otoritas keamanan setempat mengenai alasan spesifik serta landasan hukum di balik pelarangan pemutaran film yang dianggap memicu keresahan tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Setelah nobar film Pesta Babi di Unram (Lombok) dibubarkan warek, sekarang Ternate dibubarkan tentara
— ꦩꦸꦂꦠꦝ (@MurtadhaOne1) May 9, 2026
Mengapa pemerintah takut dengan film?
Unram Ternate pic.twitter.com/QrhgoTBqsi