Repelita [Jakarta] - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyentil kaum intelektual di Jakarta memicu gelombang kritik pedas dari warganet yang merasa heran dengan sikap sang kepala negara pada 11 Mei 2026.
Salah satu sorotan tajam datang dari akun X @txtdaritaxpayer yang mempertanyakan alasan konsistensi Prabowo dalam melontarkan sindiran terhadap orang-orang terpelajar di berbagai kesempatan pidatonya.
ADVERTISEMENT
Melalui unggahannya pada 10 Mei 2026, akun @txtdaritaxpayer menyampaikan kegelisahannya dengan menuliskan Sebenarnya ada masalah apa beliau dgn "orang pintar"? Sering banget nyindir orang pintar di pidatonya Kayak perasaan salah mulu jadi orang pintar di mata beliau Padahal kalo mau nyindir mah lebih jelas ditujukan ke orang kaya dan orang punya kuasa yg punya power dan resources.
Cuitan tersebut seketika menjadi wadah bagi netizen kontra untuk menyuarakan kekecewaan mereka terhadap narasi pemerintah yang dinilai antipati terhadap kecerdasan dan sikap kritis masyarakat.
Akun @Dospemz turut memberikan tanggapan keras dengan menyebutkan bahwa sikap tersebut hanyalah bentuk pembungkaman terhadap mereka yang berani menyuarakan kebenaran demi agenda politik tertentu.
Dalam komentarnya, @Dospemz menuliskan kutipan asli yakni Sikapnya yang cenderung anti-kritik dan suka membungkam suara berbeda justru menciptakan persepsi kuat bahwa ia alergi terhadap ‘orang pintar’ yang berani dan independen. Sebaliknya yang tersisa di sekitarnya adalah orang-orang pintar yang patuh dan tidak kritis.
Sentimen negatif juga datang dari akun @Renohutauruk8 yang menilai bahwa sindiran terhadap kaum intelektual tersebut hanyalah upaya untuk menutupi keterbatasan kapasitas pribadi sang pemimpin.
Melalui kolom balasan, @Renohutauruk8 melontarkan kalimat menohok dengan menuliskan secara blak-blakan yakni Karna dia aslinya bodoh,dulu bisa jadi jendral berkat mertua.
Kritik lain juga menyoroti bahwa kepedulian terhadap rakyat kecil seperti nelayan seharusnya menjadi tanggung jawab penuh kabinet pemerintahan, bukan justru dilemparkan sebagai beban bagi orang pintar di luar sistem.
Akun @pesona_cogil memberikan teguran keras di kolom komentar dengan menyatakan Itukan tugas negara kenapa harus orang pintar yang perduli, banyak kok orang pintar yang perduli bahkan mereka tidak menerima uang Dari negara.. itu tanggung jawab pemerintah Dan kabinet nya ayo buktikan sekarang jangan nyindir terus rakyatnya.. itu tugas kalian!!!
Diskusi panas di media sosial ini mencerminkan adanya persepsi publik bahwa pemerintah saat ini lebih menyukai kepatuhan mutlak dibandingkan masukan cerdas yang bersifat independen dan solutif bagi bangsa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Sebenarnya ada masalah apa beliau dgn "orang pintar"?
— txtdaritaxpayer (@txtdaritaxpayer) May 10, 2026
Sering banget nyindir orang pintar di pidatonya
Kayak perasaan salah mulu jadi orang pintar di mata beliau
Padahal kalo mau nyindir mah lebih jelas ditujukan ke orang kaya dan orang punya kuasa yg punya power dan resources https://t.co/ni0ribyB96 pic.twitter.com/vaaj97vLLs
Apakah Prabowo alergi dengan ‘orang pintar’?
— Dosen Pembimbing (@Dospemz) May 10, 2026
Tentu tidak.
Buktinya, cukup banyak akademisi, teknokrat, dan figur berintelektual yang duduk di jabatan strategis dalam lingkaran kekuasaannya.
Prabowo hanya alergi terhadap orang yang menyuarakan kebenaran, terutama ketika… https://t.co/zwnI3Unaym