Berita, Nasional

Garda Prabowo Jatim Kecam Eks Aktivis BEM UGM yang Diduga Menghina Presiden dengan Nama Kucing

Repelita.net

16 June 2026 23:39 WIB • 1,167 view

Garda Prabowo Jatim Kecam Eks Aktivis BEM UGM yang Diduga Menghina Presiden dengan Nama Kucing
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Dewan Koordinasi Daerah Garda Prabowo Jawa Timur melayangkan protes keras menyusul tindakan mantan aktivis BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang dianggap telah melecehkan simbol negara.

Kemarahan ini dipicu oleh unggahan Tiyo yang menamai seekor kucing dengan sebutan yang dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

ADVERTISEMENT

Ketua DKD Garda Prabowo Jawa Timur, Denny Hermanto, menegaskan bahwa kebebasan berpendapat di ruang demokrasi tetap memiliki batasan etika dan aturan hukum yang berlaku.

“Kami mengecam setiap bentuk penghinaan terhadap Presiden Republik Indonesia yang dipilih secara sah oleh rakyat melalui proses demokrasi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, tetapi penghinaan tidak dapat dibenarkan,” tegas Denny, Selasa (16/6/2026).

Denny memaparkan bahwa presiden merupakan simbol kedaulatan yang harus dihormati oleh seluruh masyarakat, terlepas dari perbedaan pandangan politik.

Ia menekankan pentingnya masyarakat untuk mampu membedakan antara kritik substansial terhadap kebijakan publik dengan tindakan perendahan martabat individu maupun lembaga negara.

“Demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang dipenuhi caci maki dan penghinaan. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang menghadirkan gagasan, argumentasi, serta kritik yang membangun demi kepentingan rakyat dan kemajuan Indonesia,” cetusnya.

Di tengah situasi ekonomi dan tantangan global saat ini, pihak Garda Prabowo Jatim mendesak generasi muda untuk lebih mengedepankan pemikiran konstruktif bagi persatuan bangsa.

Organisasi sayap pendukung tersebut berharap aktivis muda dapat menjadi pelopor dalam menciptakan ruang diskusi publik yang lebih santun dan bersifat solutif.

“Mari kita jaga demokrasi yang sehat dengan kritik membangun, bukan penghinaan yang dapat merusak persatuan bangsa. Indonesia membutuhkan persatuan, kedewasaan politik, dan semangat kebangsaan dari seluruh elemen masyarakat,” pungkas Denny. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung