Repelita Jakarta - Sejumlah platform konten digital yang sering dijuluki sebagai media baru secara terbuka menyanggah pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah atau Bakom RI mengenai kemitraan resmi dengan negara.
Platform Narasi secara tegas menyatakan tidak pernah tergabung dalam wadah Indonesia New Media Forum dan menekankan statusnya sebagai perusahaan pers resmi yang telah mendapatkan sertifikasi dari Dewan Pers.
ADVERTISEMENT
Manajemen Narasi menjelaskan bahwa operasional mereka berjalan di atas fondasi kaidah jurnalistik yang ketat serta memiliki infrastruktur situs web mandiri sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai entitas tanpa induk.
Langkah serupa juga diambil oleh pengelola akun media sosial Nksthi serta Ngomongin Uang yang memberikan bantahan resmi mengenai klaim keterlibatan mereka dalam lingkaran komunikasi strategis pemerintah di Istana.
Kedua platform tersebut menegaskan bahwa mereka tidak pernah menjalin kerja sama formal sebagai rekanan pemerintah apalagi menghadiri pertemuan resmi di pusat kekuasaan sebagaimana yang diberitakan sebelumnya.
Sebelum polemik ini mencuat Muhammad Qodari selaku pimpinan Bakom RI menyatakan telah merangkul Indonesia New Media Forum untuk mengoptimalkan jangkauan pesan pemerintah kepada masyarakat luas di ruang digital.
"Kehadiran teman-teman New Media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya, tidak hanya melalui media konvensional, tetapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realita media atau realita komunikasi digital sebagai bentuk dari perkembangan teknologi dan sosial kemasyarakatan," kata Qodari pada Rabu kemarin.
Qodari menjelaskan dalam konferensi pers tersebut bahwa forum yang dimaksud merupakan transformasi dari kelompok media yang sebelumnya tidak memiliki kelembagaan formal menjadi sebuah entitas baru.
Ia kemudian merinci sederet nama akun populer yang diklaim telah bergabung seperti Folkative, Indozone, Dagelan, hingga platform bertema gaya hidup seperti USS Feeds serta Bapak-bapak ID.
Daftar tersebut juga mencakup kanal edukasi dan informasi seperti Kok Bisa, Pandemictalks, Volix, serta puluhan platform lainnya yang memiliki pengaruh besar terhadap opini publik di internet saat ini.
Menurut pengamatan Bakom kehadiran kelompok media baru ini memiliki potensi luar biasa besar karena didukung oleh jumlah pengikut yang menyentuh angka ratusan juta dengan statistik tayangan yang masif.
"Dengan realita bahwa New Media sudah punya followers yang cukup besar, mungkin bisa sampai 100 juta dengan views yang bisa mencapai angka miliaran, 4 sampai 6 miliar satu bulan, hemat kami yang terbaik adalah kita bisa engage agar membuat kualitas New Media semakin meningkat," ucap Qodari memberikan argumentasi.
Meski memiliki daya jangkau yang luas pihak pemerintah menilai bahwa platform-platform digital ini masih menghadapi tantangan besar dalam menerapkan prinsip keberimbangan berita atau kode etik jurnalistik.
Strategi yang dipilih oleh Bakom adalah dengan melakukan pendekatan persuasif guna meningkatkan standarisasi konten agar setara dengan media arus utama yang telah lama mapan secara operasional.
"New Media harus dirangkul agar dapat meningkatkan kualitas dan standar agar produk dari New Media ini makin berkualitas seperti halnya media konvensional," ujar Qodari di hadapan para awak media di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa dialog merupakan jalan terbaik untuk memberikan masukan strategis dibandingkan dengan menjaga jarak yang justru akan menghambat proses perbaikan kualitas informasi di ruang siber.
"Jadi, justru kalau dijauhi malah susah ngomong kita, iya kan? Tabayyun dulu nih, silaturahmi, kan begitu. Kalau silaturahmi kan nanti poin-poin masukan, saran itu bisa tersampaikan dengan baik," imbuhnya dalam sesi penjelasan tersebut.
Berdasarkan analisis lembaga tersebut sebagian besar entitas dalam forum ini sebenarnya telah memenuhi syarat administratif dasar seperti kepemilikan badan hukum perusahaan serta alamat kantor yang terdokumentasi.
Dengan adanya struktur redaksi yang jelas pemerintah menilai kolaborasi dengan media baru ini akan menjadi mesin penggerak komunikasi publik yang jauh lebih efektif dan tepat sasaran bagi kaum milenial serta gen z.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok