Berita, Nasional

Elektabilitas Gibran Salip Prabowo di Survei SMRC Usai Putusan MA Batalkan Suket Penyetaraan Ijazah SMA

Repelita.net

31 October 2026 18:57 WIB • 134 view

Elektabilitas Gibran Salip Prabowo di Survei SMRC Usai Putusan MA Batalkan Suket Penyetaraan Ijazah SMA
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Dinamika peta perpolitikan nasional diguncang oleh temuan riset terbaru dari lembaga Saiful Mujani Research and Consulting yang menempatkan tingkat keterpilihan wakil pimpinan executive di atas kepala pemerintahan pusat.

ADVERTISEMENT

Fenomena tidak biasa tersebut menuai sorotan tajam dari kalangan pengamat domestik pada hari Sabtu tanggal 31 Oktober 2026 imbas tergesernya posisi elektoral figur utama pemegang kendali kekuasaan negara.

Analis politik Heru Subagia mengkaji secara mendalam bahwa hasil riset tersebut mencerminkan pergeseran psikologis masyarakat yang cukup keras di tengah meluasnya sengketa berkas administrasi pencalonan pemilu.

"Temuan survei dari SMRC yang memberikan sebuah cara logika berpikir politik saat ini membuat kita berpikir keras bagaimana harusnya Prabowo dalam kondisi memegang kekuasaan harus tumbang elektabilitasnya oleh wakilnya sendiri, yakni Gibran Rakabuming Raka," ujar Heru Subagia memberikan keterangannya.

Pihaknya menambahkan bahwa melonjaknya tingkat keterpilihan tokoh muda tersebut tidak terlepas dari bergulirnya isu-isu krusial ketatanegaraan seperti sengketa ijazah luar negeri hingga wacana pelengseran jabatan formal.

Menurut analisisnya, upaya penggalangan lobi politik formal yang melibatkan fraksi parlemen oposisi justru berpotensi memicu timbulnya sentimen emosional positif dan rasa solidaritas dari publik.

"kejadian isu besar pemakzulan Gibran dan usaha-usaha politik beserta gerak-gerakannya baik yang dilakukan oleh individu seperti Denny Indrayana dan tentunya lobi-lobi yang akan melibatkan partai politik dan saat ini tentunya publik sudah mengetahui karena pemakzulan Gibran juga memba- sudah masuk pembahasan cukup inten antara PDIP and PKS," jelas Heru Subagia menguraikan hipotesisnya.

Meskipun lembaga peradilan tertinggi negara telah menerbitkan amar vonis pembatalan surat keterangan penyetaraan kelulusan sekolah menengah atas, dampak elektoralnya dinilai menjadi preseden unik dalam sejarah.

Heru Subagia menduga rangkaian tekanan politik yang menyasar trah penguasa lama sengaja dirancang oleh pihak tertentu guna membendung dominasi konstelasi politik menuju kontestasi pemilihan presiden tahun 2029 mendatang.

"Saya menduga bahwa benar apa yang dikatakan Jokowi rekayasa-rekayasa politik skenario-skenario politik untuk menggagalkan Jokowi dan dinastinya dalam hal ini Gibran," beber Heru Subagia.

"MK sudah jelas menganulir suket dan ini menjadi preseden paling buruk dalam sejarah kepemimpinan menyangkut masalah kepemimpinan nasional presiden dan wakilnya," sambung Heru Subagia memaparkan catatan hitam ketatanegaraan.

Ia menilai kelolosan administrasi formal pada pendaftaran pemilu lalu telah melampaui batas akademik moral etika sehingga memicu sengketa berkepanjangan di tingkat Mahkamah Konstitusi.

"Di mana Gibran menjadi sebuah noda kelam hitam berkaitan pendidikan dan juga secara administrasi sudah melampaui batas-batas akademik moral etika yang tentunya ini menjadi bagian kecelakaan dalam ketatanegaraan hingga Gibran bisa lolos secara administrasi menjadi wakil presiden," tuturnya.

Di tengah bergulirnya kontroversi tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai apakah putusan yuridis pembatalan berkas persyaratan tersebut justru akan semakin mendongkrak performa elektoral figur yang bersangkutan.

Heru Subagia mempertanyakan korelasi materiil antara gencarnya dorongan pelengseran dengan tren lonjakan keterpilihan yang mampu melewati batas ketabuan politik internal pemerintahan saat ini.

"Yang menjadi pertanyaannya adalah kita akan menjawab mengajukan pertanyaan dulu adalah apakah kiranya elektabilitas Gibran akan semakin moncer ketika kembali rekayasa-rekayasa percobaan-percobaan atau bahkan memang fakta tentang MK menolak atau mengabulkan permohonan untuk menihilkan atau membatalkan suket yang dimiki oleh Gibran?," urai Heru Subagia.

"Dan apakah ini ada hubungannya dengan elektabilitas Gibran Rakabuming Raka yang saat ini terus menanjak dan melompat hal-hal yang tabu karena ketabuan ini jelas membunuh lawan yang ada dalam pemerintahan sendiri, yakni Prabowo," lanjutnya.

"Kemudian pertanyaan berikutnya, bukankah setelah Gibran terutama berkaitan dengan suket ini menjadi isu besar dan berhubungan langsung dengan dorongan pemakzulan semakin gencar," tambahnya memastikan indikator riset.

Melalui rekam jejak sejarah perpolitikan domestik, hantaman tudingan ekstrem yang dialami seorang tokoh sering kali berbalik menjadi insentif elektoral akibat tingginya simpati masyarakat kelas bawah.

"Hipotesis saya mengatakan bahwa dalam dinamika dan sejarah politik Indonesia dan pencapaian-pencapaian masalah elektabilitas bahwa semakin seseorang tokoh dan juga di situ elit politik dan sepatutnya mendapatkan sorotan tajam dan ekstrem termasuk di dalamnya Gibran," terang Heru Subagia.

"Justru masyarakat akan menilai, melihat, dan mencermati dan bahkan memutuskan untuk memiliki rasa emosional, persaudaraan, dukungan kuat, dan pada akhirnya memberikan perspektif positif terhadap citra dan langkah dan kondisi riil politik saat ini," imbuhnya.

Apabila persepsi emosional masyarakat sipil bergerak linear dengan asumsi tersebut, maka sengketa hukum konstitusi ini diprediksi justru akan memberikan insentif kemenangan politik yang mutlak.

"Apabila ini benar bahwa pasca MK memutuskan suket dibatalkan oleh MK, tentunya bila hipotesis saya ini linear dengan asumsi masyarakat yang saat ini melekat tentunya Gibran akan meraih sebuah kemenangan telak," pungkas Heru Subagia menutup analisis elektoralnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung