Berita, Nasional

Dokter Tifa: Hal Paling Berat Bukan Penyitaan Aset, tapi Anak Saya Melihat Semuanya

Repelita.net

03 July 2026 02:46 WIB • 1,011 view

Dokter Tifa: Hal Paling Berat Bukan Penyitaan Aset, tapi Anak Saya Melihat Semuanya
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Dokter Tifauzia Tyassuma mengaku mengalami serangkaian tekanan berat menjelang sidang perdana kasus dugaan ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Juli 2026.

Tifa menuturkan bahwa dirinya terus menghadapi intimidasi, termasuk penyitaan aset apartemen di saat ia sedang mempersiapkan pembelaan untuk persidangan.

ADVERTISEMENT

Ia menceritakan bahwa masalah hukum yang menjeratnya bermula dari usaha yang ia bangun bersama rekan bisnisnya, yang kemudian terpuruk akibat dampak pandemi COVID-19.

"Saya tidak pernah membayangkan bahwa sebuah niat baik dapat berakhir menjadi beban yang begitu panjang dan berat," ujar Tifa, Rabu (1/7/2026).

Tifa mengeklaim telah berupaya menunaikan tanggung jawabnya untuk mengembalikan dana para penanam modal meski harus menghadapi kesulitan finansial.

"Saya tetap berusaha mengembalikan dana yang sudah ditanam sedikit demi sedikit, sesuai kemampuan yang saya miliki," katanya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan pengalaman traumatis saat penangkapan oleh pihak kepolisian yang menurutnya dilakukan dengan cara yang sangat represif.

"Ketika saya akan maju ujian seminar hasil di suatu pagi masih gelap, tiba-tiba polisi menangkap dan meneror dengan brutal," ungkapnya.

Menjelang sidang dimulai, Tifa mengaku kembali terpukul dengan adanya penetapan penyitaan apartemen miliknya oleh pihak berwenang.

"Ketika saya baru menjalani wajib lapor pertama dan seluruh tim penasihat hukum telah siap menghadapi persidangan yang akan dimulai pada 2 Juli 2026, pada saat yang hampir bersamaan saya kembali menerima penetapan penyitaan apartemen saya," jelasnya.

Bagi Tifa, rasa sakit terdalam adalah saat menyaksikan anaknya harus terlibat dalam beban persoalan hukum yang menimpa dirinya.

"Yang paling berat bukanlah apartemen itu sendiri. Yang paling berat adalah ketika anak saya, yang sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang persoalan orang tuanya, harus membuka pintu rumah dan menyaksikan proses penyitaan itu berlangsung," tuturnya.

Tifa menyatakan bahwa tidak ada hal yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu selain melihat anak menanggung beban yang bukan miliknya sendiri.

"Sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak ikut memikul beban yang bukan miliknya," tambahnya.

Meskipun menghadapi berbagai cobaan, Tifa menegaskan komitmennya untuk tetap mengikuti seluruh tahapan proses hukum yang berlaku.

"Saya tetap percaya bahwa tanggung jawab harus diselesaikan dengan tanggung jawab. Saya tetap percaya bahwa hukum harus dihormati. Dan saya tetap percaya bahwa kebenaran harus diperjuangkan melalui cara-cara yang bermartabat," ucapnya.

Ia pun berpesan kepada para pendukungnya agar tetap menjaga semangat perjuangan meski ia terus diterpa berbagai bentuk intimidasi serta godaan materi.

"Setelah ancaman, teror, bujukan restorative justice, rayuan Rp50 miliar tidak mempan, sekarang yang dilakukan adalah fitnah mempermalukan, untuk melemahkan mental saya menghadapi Sidang 2 Juli 2026," tutupnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung