Berita, Nasional

Dokter Gia Pratama Kecam Sistem Kerja Internship Usai Wafatnya dr Myta Aprilia, Lelahmu Valid, Sakitmu Harus Didengar, Bukan Mesin Jaga

Repelita.net

02 May 2026 23:37 WIB • 1,281 view

Dokter Gia Pratama Kecam Sistem Kerja Internship Usai Wafatnya dr Myta Aprilia, Lelahmu Valid, Sakitmu Harus Didengar, Bukan Mesin Jaga
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Wafatnya dokter muda dr. Myta Aprilia Azmi saat menjalani program internship di RSUD KH Daud Arif, Jambi, memicu gelombang empati sekaligus kritik tajam terhadap sistem kerja tenaga medis di Indonesia, dengan sorotan terbaru datang dari dr. Gia Pratama.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (2/5/2026), dr. Gia menyampaikan pesan emosional sekaligus kritik terbuka yang menegaskan bahwa dokter internship bukanlah tenaga kerja tanpa batas yang bisa diperlakukan seenaknya.

ADVERTISEMENT

"Lelahmu Valid, Sakitmu Harus Didengar," tulis dr. Gia dalam unggahannya yang langsung menjadi viral dan dibagikan ribuan netizen serta sejawat dokter lainnya.

Dalam tulisannya, dr. Gia menekankan bahwa para dokter internship bukanlah mesin yang bisa bekerja tanpa batas waktu dan harus selalu siap sedia kapan pun dibutuhkan.

Ia menyoroti bagaimana kata "pengabdian" seringkali dijadikan alasan oleh institusi untuk mengabaikan keselamatan pribadi sang dokter demi memenuhi target pelayanan.

"Untuk teman-teman dokter internship, lelahmu valid. Sakitmu harus didengar. Keselamatanmu harus dijaga," tegas dr. Gia dalam unggahan yang dikutip pada hari yang sama.

Menurutnya, dokter muda yang tengah menjalani masa internship adalah manusia yang sedang belajar mengabdi, namun tetap memiliki batasan fisik yang tidak bisa dipaksakan melebihi kemampuannya.

Ia menegaskan bahwa status dokter muda bukan berarti mereka bisa diperlakukan sebagai tenaga kerja murah yang bisa dieksploitasi kapan saja tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan mereka.

Lebih lanjut, dr. Gia merinci poin-poin krusial yang seharusnya menjadi hak dasar bagi setiap dokter yang bertugas di wahana internship maupun rumah sakit mana pun.

"Teman-teman bukan tenaga kerja murah dan bukan mesin jaga. Jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, lingkungan kerja yang aman, dan penanganan medis saat sakit; semua itu adalah hak dasar," tegasnya dengan nada penuh keprihatinan.

Pernyataan ini seolah memvalidasi keresahan publik yang beredar luas terkait kabar bahwa dr. Myta Aprilia diduga tetap diminta bekerja meski kondisi kesehatannya sedang menurun drastis sebelum akhirnya kritis dan meninggal dunia.

dr. Gia Pratama berharap tragedi yang menimpa dr. Myta tidak hanya menjadi berita viral yang kemudian terlupakan begitu saja setelah beberapa hari.

Ia mendorong dengan keras agar peristiwa memilukan ini menjadi momentum perubahan nyata bagi kebijakan kesehatan nasional yang lebih berpihak pada kesejahteraan tenaga medis.

"Semoga kepergian dr. Myta Aprilia menjadi duka yang menggerakkan. Bukan kabar yang ramai sehari lalu hilang ditelan lini masa," ungkap dr. Gia penuh harap.

Di akhir pesannya, dr. Gia menyampaikan doa mendalam dan ucapan selamat jalan bagi sejawatnya tersebut dengan kalimat singkat namun menyentuh.

"Selamat jalan, dr. Myta Aprilia Azmi. Al-Fatihah," tutupnya mengakhiri unggahan yang telah memicu gerakan solidaritas luas dari kalangan medis.

Unggahan dr. Gia Pratama ini kini ramai dibagikan oleh ribuan netizen dan sejawat dokter lainnya sebagai bentuk solidaritas dan dukungan atas tuntutan investigasi transparan yang juga disuarakan oleh BEM KM FK Unsri serta Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung