Repelita Jakarta - Pengamat hukum dan kebijakan publik Damai Hari Lubis memberikan analisis tajam mengenai eskalasi tensi politik nasional yang diprediksi akan memasuki fase persaingan sangat sengit antara dua kekuatan besar dalam waktu dekat ini
Melalui keterangan tertulisnya pakar tersebut mensinyalir bahwa fenomena yang tengah terjadi saat ini merupakan babak awal dari bentrokan terbuka yang dipicu oleh penempatan tokoh-tokoh berseberangan ke dalam struktur kekuasaan
ADVERTISEMENT
Indikator utama yang disorot adalah masuknya figur seperti Jumhur yang ia deskripsikan sebagai “orang yang merasa pernah teraniaya pada rezim terdahulu” serta kedekatan para loyalisnya dengan pusat otoritas pemerintahan saat ini
Menurut pandangannya pergeseran posisi pimpinan tertinggi di kepolisian merupakan variabel penentu yang akan mengubah arah angin kontestasi politik dari sekadar manuver dingin menjadi pertarungan yang jauh lebih agresif
“Tanda-tanda ajang peperangan terbuka tersebut akan serius menjelma ketika Kapolri saat ini diganti,” tulis Lubis dalam siaran pers yang memberikan gambaran mengenai potensi keretakan stabilitas dalam tubuh institusi keamanan negara tersebut
Ia mencoba membedah anatomi konflik ini dengan merujuk pada sejarah jatuhnya kepemimpinan masa lalu sembari menegaskan bahwa sasaran tembak dalam gejolak kali ini bukanlah pada jabatan kepala negara melainkan pada posisi strategis lainnya
“Saat Gus Dur dengan PKB-nya yang mengalami perpecahan internal melawan PDIP yang solid bersama oposisi lain, kini yang diincar bukan kursi RI-1, melainkan kursi Wakil Presiden, dengan tujuan mengkandaskan kekuatan politik di belakang RI-2 untuk jangka panjang,” tuturnya
Konstelasi di parlemen juga diperkirakan akan mengalami perubahan drastis di mana partai penguasa utama berpeluang besar menjalin kemitraan dengan kekuatan oposisi tradisional demi membatasi ruang gerak figur-figur tertentu yang memiliki beban sejarah
Dalam peta politik tersebut Partai Golkar diprediksi tetap akan menjalankan peran sebagai pemain aman yang berusaha menjaga keseimbangan tanpa harus terlibat terlalu dalam pada pusaran konflik utama antara faksi-faksi yang bertikai
Lubis juga mengingatkan bahwa sosok Jokowi masih memegang peranan krusial karena diduga memiliki informasi sensitif yang bisa digunakan sewaktu-aktu untuk menekan para elit politik maupun anggota kabinet yang tidak sejalan
“segudang kartu as” tersebut dinilai sebagai instrumen penekan yang sangat efektif untuk mengontrol loyalitas para pemangku kepentingan di tengah upaya pembukaan data transparansi yang bisa memicu gelombang massa dalam skala masif
“Kartu-kartu merah transparansi yang dibuka, dibarengi kerumunan dengan jumlah berlipat ganda dari peristiwa yang melahirkan guncangan besar pada republik, melebihi model aksi Agustus 2025,” paparnya dalam analisis mendalam mengenai potensi kerusuhan sosial
Dukungan dari para pemilik modal besar yang merasa nyaman dengan gaya kepemimpinan tertentu juga disebut turut memberikan pengaruh signifikan terhadap dinamika ini meskipun di sisi lain kondisi fundamental ekonomi mulai menunjukkan tanda bahaya
Ancaman pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing serta dampaknya terhadap daya beli masyarakat luas diprediksi akan menjadi beban tambahan yang memperkeruh suasana kebatinan nasional di tengah hiruk-pikuk politik elit
Pada akhirnya pertarungan memperebutkan pengaruh di tingkat atas ini dipastikan akan memakan biaya sosial yang sangat besar bagi kelangsungan hidup warga negara yang berada di lapisan ekonomi paling rentan di Indonesia
“Siapapun yang bakal ‘winner’, korban kelak adalah mayoritas rakyat bangsa ini, utamanya kelas ekonomi menengah dan masyarakat miskin kota,” tegasnya menutup siaran pers yang menyoroti nasib masyarakat kecil di tengah badai politik ini(*)
Editor: 91224 R-ID Elok