Berita, Internasional

Biaya Energi Meledak, Konflik Timur Tengah Mulai Lumpuhkan Pabrik AS

Repelita.net

06 May 2026 16:09 WIB • 896 view

Biaya Energi Meledak, Konflik Timur Tengah Mulai Lumpuhkan Pabrik AS
Foto: Istimewa

Biaya Energi Meroket, Konflik Timur Tengah Mulai Lumpuhkan Pabrik-Pabrik Amerika

Sektor manufaktur Amerika Serikat mulai merasakan dampak berat dari eskalasi konflik di Timur Tengah, dengan biaya energi yang melonjak drastis menjadi beban utama industri.

ADVERTISEMENT

Meskipun indeks PMI Manufaktur ISM April 2026 masih bertahan di angka 52,7 atau menyamai level tertinggi sejak Agustus 2022, angka tersebut sebenarnya di bawah ekspektasi pasar yang mengharapkan kenaikan hingga 53,0.

Yang lebih mengkhawatirkan, di balik angka utama itu terjadi perlambatan kapasitas produksi menjadi 53,4 sementara pesanan baru justru tumbuh lebih cepat ke level 54,1.

Salah satu pemicu utama kelumpuhan sebagian pabrik adalah melambatnya rantai pasok secara signifikan, tercermin dari indeks pengiriman pemasok yang membengkak ke angka 60,6.

Kontraksi tajam juga terjadi di sektor ketenagakerjaan yang merosot ke level 46,4, menunjukkan industri sangat berhati-hati menambah tenaga kerja di tengah krisis.

Sementara itu, biaya produksi melonjak dengan kecepatan tertinggi sejak April 2022 akibat meroketnya harga minyak dan diesel sebagai dampak langsung konflik Iran di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi energi global.

Susan Spence, Ketua Komite Survei Bisnis Manufaktur ISM, mengungkapkan bahwa hanya 31 persen panelis yang menyuarakan pandangan positif, sementara 69 persen lainnya cenderung negatif.

Perang menjadi isu sentral yang disebutkan hampir separuh responden, sementara kebijakan tarif perdagangan juga menjadi perhatian serius bagi 18 persen panelis lainnya.

Banyak pelaku industri kini terjebak dalam dilema antara menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan ketidakpastian jalur logistik internasional.

Ketergantungan global pada stabilitas Selat Hormuz kembali menjadi titik lemah, di mana setiap gangguan di wilayah tersebut otomatis menaikkan biaya pengapalan dan harga energi dunia.

Dengan lapangan kerja yang terkontraksi dan biaya energi yang terus meroket, banyak pabrik mulai mengurangi jam operasi atau bahkan menghentikan sementara produksi.

Para analis memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut, sektor manufaktur AS berpotensi menghadapi gelombang penutupan pabrik dalam skala yang lebih luas.

Industri padat energi seperti baja, kimia, dan otomotif menjadi yang paling terdampak karena margin keuntungan mereka tergerus habis oleh lonjakan biaya operasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung