Repelita [Jakarta] - Aktivis pendidikan Indra Charismiadji menyampaikan pandangan tajam terkait mutu pendidikan nasional yang dinilainya belum mengalami perubahan berarti.
Meskipun alokasi dana dari pemerintah terbilang sangat melimpah setiap tahunnya, tingkat keberhasilan pendidikan di tanah air dianggap masih jauh dari harapan.
ADVERTISEMENT
Ia mengkhawatirkan adanya indikasi bahwa kondisi keterbelakangan pendidikan ini disengaja demi memberi keuntungan bagi kelompok-kelompok tertentu.
Indra menilai masalah mutlak di sektor edukasi ini sudah berlangsung selama beberapa dekade tanpa disadari secara penuh oleh publik.
"Kita sudah 20 tahun lebih sependidikannya terburuk. Dan itu kita banyak masyarakat nggak menyadari itu," ujar Indra pada Kamis (30/7/2026).
Masyarakat kerap menganggap keadaan ini normal, padahal konsekuensi yang ditimbulkan sangat mengancam kualitas SDM.
"Karena dianggapnya biasa-biasa saja. Padahal faktanya, kita itu membaca saja nggak bisa," ucapnya.
Ia menyoroti indikator kemiskinan pembelajaran yang menunjukkan mayoritas anak umur 10 tahun kesulitan mencerna maksud dari sebuah tulisan.
"Learning poverty kita itu level 70 persen. Artinya anak usia 10 tahun, 7 dari 10 dari mereka nggak bisa baca. Data valid. Data World Bank," tukasnya.
Indra menegaskan permasalahan utama bukan terletak pada kemampuan melafalkan huruf, melainkan daya tangkap atas isi bacaan.
"Anak Indonesia usia 10 tahun tidak bisa membaca. Artinya dia bunyi, bisa baca, tapi gak paham apa yang dia baca," Indra menuturkan.
Fenomena ini dimasukkan ke dalam kategori buta aksara fungsional yang cukup mengkhawatirkan.
"Itu disebut dengan functionally illiterate, atau buta huruf fungsional," tambahnya.
Selain ketangkasan literasi, ia juga mengkritik rendahnya pemahaman numerasi di kalangan murid.
"Ya kelihatan kan begitu. Menghitung jelas-jelas kita itu harus menjadi kesadaran kita bersama," imbuhnya.
Ia merasa prihatin karena kucuran dana yang begitu masif dari negara tidak sebanding dengan capaian akademis para siswa.
"Dan ironisnya lagi, anggaran pendidikan kita itu 769 triliun per tahun. Itu luar biasa angkanya, besar sekali. Tetapi tidak berbanding lurus dengan hasilnya," terangnya.
Indra menutup pandangannya dengan kekhawatiran atas skenario pembiaran yang berpotensi merugikan masa depan bangsa.
"Yang saya takutkan jangan-jangan memang diwisain buat bangsa ini bodoh dan miskin. Karena banyak pihak yang mengambil keuntungan dengan membuat bangsa ini bodoh dan miskin," pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok