Repelita Bandung - Upaya memberikan pembelaan terhadap Mayor Teddy dan Presiden Prabowo Subianto dinilai sah-sah saja dilakukan oleh pihak mana pun, namun langkah tersebut semestinya tidak diiringi dengan tindakan intimidasi yang melampaui batas kewajaran, terlebih jika mengarah pada bentuk premanisme jalanan sebagaimana disoroti oleh Pemerhati Politik dan Kebangsaan, M Rizal Fadillah.
Sorotan tajam ini muncul setelah tokoh senior Amien Rais mendapat ancaman dari ketua umum GRIB, Hercules, lantaran melayangkan kritik keras demi menyelamatkan kepemimpinan nasional, di mana menurut M Rizal Fadillah, sang mantan penguasa Tanah Abang tersebut mengeluarkan gertakan verbal yang meminta Amien Rais untuk "menjaga mulut" serta mengungkit bahwa "tangan sudah tak mau berdarah lagi" sebagai bentuk gertakan psikologis.
ADVERTISEMENT
Jika ditarik garis paralel sejarah, narasi ketangguhan figur ini seolah mengingatkan M Rizal Fadillah pada legenda mitologi Yunani mengenai keperkasaan anak Dewa Zeus bernama Herakles, yang dikenal memiliki rekam jejak penuh darah saat menumbangkan berbagai makhluk mengerikan seperti singa Nemea, ular Hydra Lernea, hingga anjing penjaga neraka Cerberus sebelum akhirnya mengalami fase kegilaan akibat kutukan Dewi Hera.
Aksi brutal masa lalu yang membuat sang manusia setengah dewa membantai anak istrinya sendiri memaksanya menebus dosa lewat dua belas tugas berat, sebelum akhirnya riwayat hidupnya berakhir tragis melalui cara bunuh diri akibat racun mematikan, yang dalam catatan sejarah kuno tulisan Plutarch turut mengungkap sisi orientasi seksualnya yang biseksual bersama para pengawal pria.
Respons reaktif dan penuh emosi dari kubu Hercules saat menyikapi kritik Amien Rais mengenai isu sensitif di lingkaran dalam istana dinilai sangat keliru oleh M Rizal Fadillah, sebab ketimbang memberikan klarifikasi ilmiah berbasis rekam medis atau pembuktian psikologis yang rasional, ormas tersebut justru memilih jalan pintas berupa ancaman kekerasan fisik dan verbal.
Pihak penyerang tampaknya mengabaikan realitas sosial bahwa ada gelombang solidaritas besar serta kekuatan moral dari berbagai elemen masyarakat yang siap berdiri membela Amien Rais jika intimidasi ini terus berlanjut.
Aksi kesewenang-wenangan kelompok GRIB ini dilaporkan meluas hingga menyasar kediaman Ahmad Bahar, seorang penulis yang vokal mendukung pemikiran Amien Rais, di mana dalam pandangan M Rizal Fadillah, insiden pengepungan rumah serta penyanderaan terhadap anak perempuan sang penulis dicap sebagai bentuk pelanggaran hukum serius karena ormas tersebut bertindak layaknya aparat kepolisian yang sah.
Menyikapi arogansi yang dinilai sudah sangat kelewatan tersebut, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) AP PP Muhammadiyah langsung melayangkan protes keras dan menyatakan kesiapan penuh untuk mengawal kasus ini serta memberikan perlindungan hukum bagi keluarga Ahmad Bahar dari segala bentuk teror.
M Rizal Fadillah menegaskan bahwa akar persoalan utama yang mendesak untuk dituntaskan secara transparan saat ini adalah kepastian hukum serta pembuktian objektif mengenai pembersihan moral di lingkungan korps pejabat negara, terutama yang menyangkut stabilitas kerja serta kesehatan internal kepemimpinan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok