Berita, Internasional

Analis Geopolitik Beijing Prediksi Tiga Titik Panas Asia Timur Picu Perang Besar dalam Waktu Dekat

Repelita.net

08 May 2026 22:30 WIB • 795 view

Analis Geopolitik Beijing Prediksi Tiga Titik Panas Asia Timur Picu Perang Besar dalam Waktu Dekat
Foto: Istimewa

Repelita Beijing - Analis geopolitik sekaligus sejarawan kenamaan asal Beijing Profesor Jiang Xueqin memetakan tiga wilayah krusial di kawasan Asia Timur yang diprediksi bakal memicu pecahnya peperangan besar dalam waktu dekat ini

Melalui unggahan konten video singkatnya yang kini tengah menjadi perbincangan hangat di tanah air pada hari Jumat 8 Mei 2026 Profesor Jiang menitikberatkan perhatian pada wilayah Taiwan wilayah Selat Malaka serta dinamika di Semenanjung Korea

ADVERTISEMENT

Dalam melakukan pembacaan terhadap potensi eskalasi militer tersebut sang pakar menggunakan kerangka teori permainan serta analisis mendalam mengenai insentif strategis yang dimiliki oleh masing-masing negara yang bertikai

Taiwan dipandang sebagai sumbu konflik yang paling berisiko meledak sewaktu-waktu karena klaim kedaulatan Tiongkok atas pulau tersebut yang bersinggungan langsung dengan kepentingan ekonomi vital dari negara Jepang

Keterlibatan Jepang dalam isu ini dipicu oleh besarnya ketergantungan mereka pada jalur pelayaran perdagangan internasional di wilayah Selat Malaka sebagai urat nadi utama pasokan sumber daya energi nasional mereka

"Jika China ingin mengambil alih Taiwan, itu bisa menghentikan Jepang dari memiliki akses ke Malaka. Itu kemungkinan yang Jepang tidak bisa membenarkan," kata Jiang dalam analisisnya mengenai posisi terjepit Negeri Sakura tersebut

Skenario ini didukung oleh sikap politik tegas Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang pada tanggal 7 November 2025 menyatakan bahwa agresi terhadap Taiwan dapat dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup bangsa

Kebijakan tersebut membuka celah bagi pengerahan kekuatan militer Pasukan Bela Diri Jepang berdasarkan regulasi keamanan yang telah disahkan sejak era kepemimpinan Shinzo Abe mengingat jarak geografis yang teramat dekat

Otoritas di Beijing merespons keras narasi tersebut melalui Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka Xue Jian yang sempat mengunggah kalimat bernada ancaman tajam sebelum akhirnya menghapus pesan kontroversial tersebut dari akun medianya

Sementara itu Selat Malaka diproyeksikan menjadi arena persaingan pengaruh yang sangat sengit antara kekuatan Amerika Serikat yang ingin memegang kendali navigasi melawan Tiongkok yang sangat mementingkan jalur tersebut bagi ekonominya

Dominasi atas jalur maritim tersebut sangat menentukan stabilitas rantai pasok minyak dunia karena merupakan penghubung utama distribusi logistik dari kawasan Timur Tengah dan Afrika menuju jantung industri di Asia Timur

Di sisi lain spekulasi mengenai masa depan Semenanjung Korea menjadi poin yang paling mengejutkan karena adanya celah dalam pertahanan global yang berpotensi dimanfaatkan oleh pihak Korea Utara untuk menekan Korea Selatan

Konsentrasi populasi yang sangat padat di wilayah Seoul menjadikan ibu kota tersebut sangat rentan terhadap ancaman serangan artileri yang hanya membutuhkan waktu singkat untuk mencapai target dari garis perbatasan militer

Profesor Jiang berpendapat bahwa pihak Pyongyang tidak harus benar-benar meluncurkan agresi fisik namun cukup dengan memaksimalkan ancaman strategis guna mendapatkan keuntungan politik maupun ekonomi dari pihak lawan bicara mereka

"I saya tidak perlu menghancurkan Korea Selatan. Yang saya perlu lakukan adalah mengancam Korea Selatan, dan mereka akan memberi saya apa pun untuk tidak melakukan apa-apa," kata Jiang saat memaparkan simulasi strategi diplomasinya

Logika analisis ini tampak berkelindan dengan pergeseran kekuatan militer di lapangan di mana pihak Pentagon dilaporkan telah menarik sejumlah alutsista sistem pertahanan rudal dari wilayah Korea Selatan menuju Timur Tengah

Pergerakan pesawat angkut berat yang terdeteksi di Pangkalan Udara Osan sejak tanggal 28 Februari 2026 disinyalir merupakan bagian dari dukungan operasional bagi Amerika Serikat dalam menghadapi eskalasi konflik di kawasan Iran

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengungkapkan kekecewaan diplomatiknya atas penarikan sistem pertahanan tersebut meskipun ia mengakui bahwa posisi tawar negaranya saat ini tidak cukup kuat untuk membendung kebijakan strategis Washington

Guna menenangkan suasana Komandan Pasukan Amerika Serikat di Korea Jenderal Xavier Brunson pada tanggal 21 April 2026 memberikan jaminan bahwa inti dari sistem pertahanan utama tetap disiagakan di wilayah Semenanjung Korea

Pernyataan tersebut sekaligus mengklarifikasi bahwa logistik yang dikirimkan ke wilayah konflik di Timur Tengah hanyalah berupa amunisi serta komponen pendukung tertentu saja tanpa mengganggu stabilitas pertahanan di wilayah Asia Timur(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung