Berita, Nasional

Anak Pegiat Medsos Ahmad Bahar Diduga Disekap di Markas GRIB Jaya, Keluarga Mengaku Tak Dapat Perlindungan Polisi

Repelita.net

18 May 2026 15:05 WIB • 849 view

Anak Pegiat Medsos Ahmad Bahar Diduga Disekap di Markas GRIB Jaya, Keluarga Mengaku Tak Dapat Perlindungan Polisi
Foto: Istimewa

Repelita Depok - Kondisi psikologis mencekam dilaporkan tengah melanda lingkaran domestik dari pegiat literasi digital Ahmad Bahar setelah anak perempuannya disekap secara sepihak di dalam area markas komando organisasi kemasyarakatan GRIB Jaya.

Istri dari sang penulis, Yenni Nur, membeberkan narasi memprihatinkan mengenai penahanan ilegal tersebut yang memposisikan sang putri sebagai sandera jaminan agar suaminya bersedia datang langsung guna menghadap pimpinan tertinggi ormas, Rosario de Marshal alias Hercules.

ADVERTISEMENT

Ketegangan bermula saat kediaman pribadi korban digeruduk paksa oleh sekelompok massa tak dikenal pada Minggu, 17 Mei 2026 malam, ketika Yenni sedang berada di luar daerah untuk agenda keluarga, “Saya itu kan dari kemarin di luar kota sama anak saya yang pertama, mau jemput anak terakhir di pondok,” ungkapnya menceritakan situasi awal.

Sebelumnya, sekelompok simpatisan berseragam tersebut dikabarkan sempat mendatangi tempat tinggal korban guna menuntut pertanggungjawaban hukum atas konten digital yang dinilai mendiskreditkan nama baik ketua umum mereka, “Jadi, itu orang-orang Hercules itu kan udah datang ke (rumah) minta klarifikasi, udah foto, video,” tutur Yenni mengisahkan interaksi perdana.

Situasi keamanan di area pemukiman warga sipil tersebut mendadak kembali eskalatif ketika rombongan massa dalam jumlah yang lebih besar datang melabrak anak perempuan korban yang sama sekali tidak mengetahui persoalan, “Tadi mereka datang lagi, saya pikir kan udah beres, tapi ternyata mereka datangin anak saya yang waktu itu nomer hapenya dipakai Hacker untuk anuin Hercules itu loh, untuk menjelekkan nda tau apa isinya,” jelasnya panik.

Berdasarkan laporan saksi mata di lapangan, area pekarangan tempat tinggal pegiat medsos tersebut sempat diblokade oleh belasan pemuda yang berniat memburu keberadaan Ahmad Bahar secara intimidatif, “Ternyata tadi sampai dikepung rumah saya, sepuluh orang katanya,” beber Yenni menceritakan kepanikan di kediamannya.

Tanpa adanya surat perintah penangkapan resmi dari lembaga peradilan negara, sejumlah oknum dilaporkan merangsek masuk ke dalam ruang privat guna melacak keberadaan target utama, “Dua orang masuk ke dalam rumah mencari pak Ahmad, gak ketemu,” kata Yenni mengonfirmasi ketiadaan suaminya di lokasi.

Dalam kondisi kepanikan luar biasa akibat tekanan psikologis massa, pihak keluarga langsung berupaya menghubungi perangkat keamanan teritorial tingkat rukun warga serta bintara pembina desa setempat, “Saya posisinya masih di Karawang, terus akhirnya saya hubungi pak RW, Babinsa, pokoknya semua pihak keamanan di RW,” jelasnya mengenai upaya penyelamatan darurat.

Kendati aparatur lingkungan telah berada di tempat kejadian perkara untuk melakukan mediasi, desakan dari kelompok eksternal tersebut agar sang anak dibawa pergi dari rumah tetap tidak dapat dibendung, “Tapi tetap mintanya gini, yang dua orang itu pertama datang, pokoknya gini aja, adek datang dulu ke sana ke kantor jelasin,” ucap Yenni menirukan paksaan pelaku.

Sesampainya di kantor pusat operasional ormas tersebut, anak perempuan nomor dua dari Ahmad Bahar langsung dihadapkan secara personal kepada Hercules yang bersikap keras dan menolak argumen teknis forensik siber, “Hasil penjelasannya barusan ketemulah Hercules, dia gak percaya dia kalau bukan anak saya yang bikin kalimat itu,” imbuhnya dengan nada sedih.

Pihak keluarga menegaskan kembali bahwa gawai elektronik milik sang anak sebelumnya telah mengalami peretasan oleh pihak ketiga yang berniat mengadu domba, “Padahal udah jelas nomor anak saya dihacker, anak saya yang perempuan itu yang kedua,” lanjut Yenni meratapi kemalangan yang menimpa putrinya.

Hingga berita ini diturunkan, status keberadaan anak perempuan tersebut dikonfirmasi masih ditahan secara ilegal di bawah pengawasan ketat sejumlah simpatisan ormas, “Sekarang posisinya di kantor Grib sama pak RW, tidak diperbolehkan pulang kalau pak Ahmad belum datang,” terangnya membeberkan fakta penyanderaan.

Guna mencari perlindungan hukum positif, Yenni mengaku telah berkomunikasi dengan berbagai tokoh nasional serta lembaga bantuan hukum ormas keagamaan, “Saya sudah menghubungi tim Advokat PP Muhammadiyah, udah nelpon pak Refly Harun, cuma pak Refly katanya gak punya nomor pak Hercules,” tuturnya menguraikan kendala komunikasi.

Ironisnya, saat korban mendatangi markas kepolisian sektor Cimanggis untuk membuat laporan pidana atas aksi penyekapan anak, aparat penegak hukum setempat justru menolak laporan dan mengeluarkan pernyataan yang menyudutkan korban, “Tadi ke Polsek (Cimanggis), katanya malah gini, yah salahnya sendiri katanya iniin, mainin, Hercules,” ungkap Yenni menirukan respons oknum polisi.

Korban sempat memberikan argumentasi siber bahwa persoalan tersebut murni merupakan tindakan kejahatan siber yang dilakukan oleh peretas tak dikenal, “Malah gitu, saya bilang itu Hacker pak, kata saya gitu kan,” sambung Yenni yang merasa tidak mendapatkan keadilan dari aparat yudisial.

Pihak kepolisian sektor setempat dinilai enggan mengambil risiko hukum dan memilih abai terhadap hak keselamatan warga sipil dengan dalih konflik tersebut dipicu oleh konten video, “Jadi yaudah mereka lepas tangan, saya sudah ke Polsek lapor tapi ditolak. Katanya salah sendiri bikin rusuh, maksudnya bikin video tentang Hercules itu,” kuncinya kecewa.

Sebagai informasi latar belakang, perseteruan ini berakar dari reaksi keras Hercules yang melayangkan kecaman terbuka kepada politisi senior Amien Rais terkait kritikannya terhadap relasi kekuasaan antara pihak sekretariat kabinet dengan lembaga kepresidenan.

Merespons video intimidasi Hercules yang dinilai kurang menjunjung tinggi nilai kesopanan terhadap tokoh bangsa yang lebih tua, Ahmad Bahar kemudian merilis sebuah konten video melalui akun media sosial Tiktok pribadinya, "Sudahlah bung, jagoan itu ada masanya, dulu anda jagoan, dulu lu jagoan, sekarang jagoan bukan, jadi gak usah gitu juga kali ya, lagian juga gak sopan lah, orang tua kok dilawan, melawan kok orang tua," ujarnya memperingatkan.

Melalui rekaman digital yang kini viral tersebut, dirinya meminta agar pimpinan ormas tersebut menahan diri dari tindakan arogan dan mulai merefleksikan sisa perjalanan hidupnya di dunia, "Melawan tuh yang lebih muda, ngajak ribut juga kepada yang muda, anda belum pernah kualat kayaknya, jadi apalagi lah yang anda cari, kekayaan sudah, popularitas sudah, kok masih mencari-cari lagi sih," pungkasnya secara tajam.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung