Repelita Jakarta - Gelombang pembelaan terhadap Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kini merambah ke jajaran mantan pejabat tinggi negara setelah sebelumnya sejumlah menteri aktif di Kabinet Merah Putih menyatakan sikap serupa.
Melalui sebuah unggahan di akun media sosial Facebook milik Ahmad Khozinudin pada 7 Mei 2026, nampak sorotan tajam mengenai kehadiran sosok mantan petinggi intelijen, Hendropriyono, yang turut memberikan suaranya.
ADVERTISEMENT
Ahmad Khozinudin dalam siaran langsungnya di youtube.com memberikan ulasan mengenai fenomena para pejabat yang seolah kompak memberikan perlindungan bagi sang Sekretaris Kabinet tersebut.
Unggahan tersebut menampilkan narasi utama yang sangat eksplisit melalui judul tayangan yang berbunyi MENTERI & PEJABAT SUDAH, KINI GILIRAN HENDROPRIYONO EKS KABIN BELA SESKAB TEDDY INDRA WIJAYA.
Fenomena ini dinilai sebagai pergeseran menarik dalam dinamika politik nasional di mana tokoh-tokoh berpengaruh dari masa lalu mulai turun tangan guna meredam polemik yang menyeret nama orang dekat presiden.
Ahmad Khozinudin mempertanyakan urgensi dari banyaknya elite kekuasaan yang secara bergantian pasang badan demi membentengi satu individu dari berbagai tudingan serta kritikan yang dilontarkan oleh tokoh senior bangsa.
Langkah para pejabat ini dipandang oleh sebagian pengamat sebagai bentuk loyalitas korps, namun di sisi lain juga memicu perdebatan mengenai batas keterlibatan institusi negara dalam ranah yang dianggap bersifat personal.
Masyarakat kini tengah memperhatikan sejauh mana narasi pembelaan kolektif ini akan mampu memengaruhi persepsi publik yang sejak beberapa waktu lalu telah dihangatkan oleh berbagai isu mengenai integritas pimpinan.
Kehadiran Hendropriyono dalam barisan pembela tersebut menambah bobot politis dari polemik ini, mengingat pengaruh besar yang dimilikinya dalam struktur kekuasaan informal maupun formal di Indonesia selama beberapa dekade.
Publik terus menantikan kelanjutan dari perang opini ini, di mana batas antara kewajiban membela rekan sejawat dengan kepentingan transparansi publik terhadap pejabat negara semakin menjadi garis yang sangat tipis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok