Berita, Nasional

Zainal Arifin Mochtar Sebut Ketimpangan Ekonomi sebagai Pembunuh Demokrasi Saat Orasi di Yogyakarta

Repelita.net

28 October 2026 20:24 WIB • 102 view

Zainal Arifin Mochtar Sebut Ketimpangan Ekonomi sebagai Pembunuh Demokrasi Saat Orasi di Yogyakarta
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kehadiran Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada Zainal Arifin Mochtar dalam aksi massa memperingati Hari Sumpah Pemuda menjadi perhatian publik.

Pakar hukum tata negara tersebut turun langsung ke jalan dan menyampaikan orasi di depan Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, kawasan Malioboro.

ADVERTISEMENT

Dalam pernyataannya, ia menyoroti secara tajam korelasi antara tingginya angka kesenjangan ekonomi dengan penurunan kualitas sistem demokrasi yang tengah berjalan.

“Ajaran utama bicara demokrasi adalah kedaulatan, tapi tidak pernah pindah dari kita,” ujar Zainal.

Ia lantas memaparkan data perbandingan jurang pemisah harta kekayaan yang terjadi di tengah lapisan masyarakat Indonesia saat ini.

“Coba bayangkan 50 orang terkaya di Indonesia, sama dengan 50 juta orang Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut, Zainal merefleksikan besarnya akumulasi harta kekayaan yang dimiliki oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai indikator nyata dari ketimpangan tersebut.

Menurut perhitungannya, masyarakat biasa memerlukan waktu hingga ratusan tahun lamanya untuk menyamai nilai kepemilikan aset sang kepala negara.

“Ketimpangan, untuk mengejar kekayaan Prabowo Anda butuh dua abad menabung. Kita semua kesulitan, padahal demokrasi, ketimpangan itu yang membunuh demokrasi,” ucapnya.

Kondisi kepemilikan modal yang tidak merata ini dinilai mempermudah jejaring kelompok pemodal besar dalam mendikte jalannya arah kebijakan pemerintahan.

“Ketimpangan itu yang membuat penguasa lebih mudah bermain dengan oligarki,” katanya.

Melalui momentum pergerakan pemuda ini, ia meminta seluruh lapisan masyarakat untuk berani menyuarakan protes keras terhadap ketidakadilan distribusi kesejahteraan.

“Kita patut marah, kita patut teriak, kita patut untuk membangun sumpah kita sendiri,” ujarnya.

Ia menilai narasi mengenai kesatuan bangsa selama ini kerap kali dijadikan komoditas politik, sementara kondisi riil di lapangan justru memperlihatkan keterbelahan.

“Tak ada gunanya bicara berbangsa satu, ketika bangsa kita dipecah, yang memperoleh keuntungan terbesar adalah kaum oligarki,” kata Zainal.

Pada bagian akhir orasinya, ia mengingatkan para pemegang mandat kekuasaan agar tidak menjalankan pemerintahan secara jemawa dan melupakan kehendak rakyat.

“Runtuhkan kekuasaan yang sombong ini. Harus bertekuk lutut pada keinginan kita. Revolusi!!!” serunya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung