Repelita [Jakarta] - Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar, melontarkan kritik pedas kepada Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, terkait simpang siurnya informasi mengenai krisis listrik.
Kritik tersebut disampaikan Zainal melalui unggahan di akun Facebook pribadinya setelah mengalami langsung dampak pemadaman bergilir di kawasan tempat tinggalnya, Jalan Kaliurang.
ADVERTISEMENT
Dalam dua hari ini jalan kaliurang di beberapa tempat gelap gulita. Nah, ada dua berita ini yang berbeda hampir 180 derajat, satu bilang karena PLN kurang pasokan, satunya bilang gak. Orangnya sama. Slide 1 dan 2 hanya berbeda beberapa jam. Mana yang benar? Wallahu a'lam, yang pasti kenyataan adalah kita sedang menikmati mati lampu bergiliran, eh maaf salah, lampu menyala bergiliran…, tulis Zainal, Sabtu (20/6/2026).
Kegelisahan Zainal muncul setelah menyoroti dua pernyataan menteri dalam selisih waktu singkat yang bertolak belakang mengenai cadangan batu bara untuk PT PLN.
Pernyataan pertama sempat mengindikasikan adanya kendala pasokan akibat disparitas harga DMO dengan pasar global, namun tak lama berselang Bahlil justru memberikan bantahan.
Dalam pernyataan bantahannya, Bahlil menyatakan stok batu bara aman dan meminta masyarakat untuk tetap tenang dengan menegaskan bahwa tidak ada kendala berarti.
Insya Allah Nggak, ujar Bahlil saat merespons isu krisis energi yang tengah menjadi perhatian luas dari publik tersebut.
Menanggapi situasi ini, Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan pihaknya kini berupaya mempercepat kontrak pengadaan batu bara guna menjamin pasokan listrik di wilayah Jamali.
Kami juga mempercepat proses penandatanganan kontrak kepada para pemasok batu bara, terutama medium ranked coal yang sudah mendapatkan penugasan dari pemerintah, jelas Darmawan, Jumat (19/6/2026).
Darmawan memastikan proses koordinasi dengan Direktorat Jenderal Minerba terus dilakukan agar penyaluran bahan bakar pembangkit dapat kembali berjalan lancar.
Saat ini, aliran batu bara telah mulai didistribusikan ke sejumlah PLTU strategis di Jawa, termasuk PLTU Suralaya, Paiton, dan beberapa pembangkit lainnya yang sempat terimbas. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok