Repelita [Cianjur] - Insiden keracunan massal yang merenggut nyawa seorang balita serta mengakibatkan ratusan warga jatuh lemas di wilayah Kecamatan Leles kini tengah menjadi pusat perhatian publik pada 11 Mei 2026.
Kejadian tragis tersebut diduga terjadi setelah para korban mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan melalui fasilitas posyandu di wilayah Kabupaten Cianjur tersebut.
ADVERTISEMENT
Aktivis media sosial Herwin Sudikta memberikan reaksi keras terhadap peristiwa memilukan ini dengan menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan program prioritas nasional tersebut.
Melalui pernyataannya di platform digital pada 11 Mei 2026, Herwin Sudikta mengecam kegagalan pengawasan pangan dengan menuliskan "Program makan bergizi seharusnya menyelamatkan generasi. Bukan malah bikin warga masuk IGD massal," tegasnya.
Menurut pandangannya, tata kelola distribusi yang buruk hanya akan mengubah tujuan mulia perbaikan gizi anak menjadi sebuah petaka bagi masyarakat jika tidak segera dilakukan pembenahan sistemis.
Ia memperingatkan pemerintah melalui cuitannya yang berbunyi "Kalau distribusi dan pengawasannya amburadul, yang dibagi bukan gizi. Tapi bencana," tandasnya menanggapi banyaknya warga yang harus dilarikan ke rumah sakit.
Korban meninggal dunia merupakan seorang balita berinisial MAB yang mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis sore, 23 April 2026, setelah sempat mendapatkan penanganan medis secara intensif.
Selain menelan korban jiwa, tercatat sedikitnya enam balita lainnya ikut merasakan dampak kesehatan yang serius akibat terpapar zat berbahaya yang hingga kini sumber asalnya masih dalam tahap penelitian.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Made Setiawan, memberikan penjelasan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman teknis guna mengungkap penyebab pasti di balik insiden keracunan massal yang meresahkan ini.
Pihak otoritas kesehatan menyatakan masih menunggu hasil uji laboratorium yang valid guna memastikan apakah pemicu utama berasal dari menu makanan tertentu atau terdapat faktor lingkungan lainnya.
Made Setiawan dalam keterangan resminya menyampaikan posisi kementerian terkait dengan berujar "Kami masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan apakah pemicu keracunan dari makanan atau faktor lain. Kami segera umumkan setelah hasilnya keluar sekitar satu pekan ke depan," pungkasnya.
Hingga kini, masyarakat setempat masih diliputi kecemasan dan berharap agar hasil pemeriksaan laboratorium segera dipublikasikan guna memberikan kepastian serta keadilan bagi seluruh keluarga korban terdampak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok