Berita, Nasional

[VIRAL] Fenomena hotel dijual massal di Bali dan Bandung, meski dunia pariwisatanya terus bertumbuh Awalnya Bali. Sekarang Bandung

Repelita.net

29 September 2026 23:39 WIB • 76 view

[VIRAL] Fenomena hotel dijual massal di Bali dan Bandung, meski dunia pariwisatanya terus bertumbuh Awalnya Bali. Sekarang Bandung
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Fenomena penjualan hotel dalam jumlah besar di Bali dan Bandung menjadi sorotan setelah akun Threads @lukmansop mengunggah analisis mengenai kondisi bisnis akomodasi pada 29 September 2026.

Dalam unggahannya, @lukmansop menyebut terdapat 524 iklan dengan kata kunci hotel di Bali, dengan 244 di antaranya berupa hotel dan vila yang ditawarkan untuk dijual.

ADVERTISEMENT

Harga properti yang ditawarkan disebut berada pada kisaran Rp1,6 miliar hingga Rp535 miliar, sementara di Bandung terdapat 357 iklan hotel aktif di OLX per 25 September 2026.

Menurut @lukmansop, tingginya jumlah hotel yang masuk bursa penjualan tidak serta-merta menunjukkan pariwisata sedang kolaps karena penjualan aset dapat dipicu pergantian kepemilikan, strategi investasi, kebutuhan likuiditas, restrukturisasi, maupun tekanan bisnis.

Ia kemudian mempertanyakan kondisi tersebut dengan kalimat, "Pertanyaan SIBISA-nya:

kalau pariwisata baik-baik saja, kenapa aset akomodasi ramai-ramai ke bursa penjualan?"

Meski demikian, @lukmansop menegaskan agar fenomena tersebut tidak langsung disimpulkan sebagai tanda runtuhnya sektor pariwisata karena jumlah iklan penjualan saja belum cukup untuk menggambarkan kondisi industri secara keseluruhan.

Dalam unggahan yang sama, ia menyebut wisatawan ke Bali masih mengalami pertumbuhan, dari 15,15 juta pada 2023 menjadi 16,56 juta pada 2025 berdasarkan data yang disebut berasal dari Kementerian Pariwisata.

Menurut analisis tersebut, persoalan utama justru berada pada ketidakseimbangan antara pertumbuhan permintaan dan penambahan kapasitas akomodasi.

Pada periode 2023-2025, usaha akomodasi disebut tumbuh 22,1 persen per tahun, sedangkan kunjungan wisatawan hanya bertambah 4,6 persen.

Kesenjangan tersebut disebut semakin terlihat pada 2024-2025 ketika jumlah kamar meningkat 45,9 persen, sementara pertumbuhan kunjungan wisatawan hanya 0,65 persen.

Kondisi ketika jumlah kamar bertambah jauh lebih cepat dibandingkan wisatawan dinilai dapat mendorong persaingan harga, sementara biaya operasional, cicilan, dan kebutuhan tenaga kerja tetap harus dipenuhi oleh pemilik usaha.

Situasi itu pada akhirnya membuat pengusaha harus memilih antara mempertahankan bisnis, melakukan efisiensi, mengubah model usaha, atau menjual aset yang dimiliki.

Untuk Bandung, @lukmansop mengutip pandangan pakar pariwisata Unpad Cipta Endyana yang menyoroti perubahan daya beli masyarakat kelas menengah serta pergeseran pola perjalanan wisata.

Menurut Cipta Endyana, meningkatnya biaya perjalanan membuat masyarakat melakukan penyesuaian, sementara pilihan akomodasi seperti glamping dinilai menawarkan pengalaman berbeda dengan biaya yang dianggap lebih efisien dibandingkan hotel konvensional.

@lukmansop menilai jumlah wisatawan tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kesehatan bisnis hotel karena perlu dilihat pula durasi kunjungan, besaran pengeluaran, lokasi belanja, serta perubahan perilaku wisatawan.

Jumlah wisatawan yang meningkat juga belum otomatis membuat pendapatan hotel bertambah karena tidak seluruh pengunjung menginap, dan wisatawan yang menginap pun belum tentu tinggal dalam waktu lama.

Ia juga menyoroti tingkat hunian yang tinggi pada akhir pekan karena kondisi tersebut belum tentu mencerminkan performa bisnis hotel sepanjang tahun.

Selain wisatawan, sektor pertemuan dan kegiatan pemerintah sebelumnya disebut menjadi salah satu sumber pendapatan bagi sejumlah hotel, seperti rapat, seminar, FGD, dan kegiatan pelatihan.

Ketika belanja pemerintah mengalami efisiensi, hotel yang terlalu bergantung pada segmen tersebut disebut dapat ikut mengalami tekanan karena kehilangan salah satu sumber pemasukan utama.

@lukmansop mengingatkan bahwa bisnis hotel tidak semestinya hanya mengandalkan satu sumber pendapatan, baik dari segmen wisatawan tertentu, musim tertentu, platform pemesanan daring, maupun pasar pemerintah.

Menurutnya, pemetaan kondisi perlu dilakukan secara lebih rinci dengan melihat hotel yang terdampak, wilayahnya, segmen pasar, tingkat okupansi, karakter tamu, durasi menginap, biaya operasional, serta keseimbangan antara permintaan dan kapasitas kamar.

Fenomena di Bali disebut menjadi gambaran bahwa pertumbuhan wisatawan masih dapat terjadi bersamaan dengan pertumbuhan kapasitas akomodasi yang jauh lebih cepat.

Karena itu, pembangunan sektor pariwisata dinilai tidak cukup hanya mengejar peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga perlu menjaga keseimbangan antara jumlah wisatawan, kamar, daya beli, lama tinggal, pengeluaran, infrastruktur, lingkungan, dan kemampuan pelaku usaha bertahan.

Dalam unggahannya, @lukmansop menutup analisis dengan menilai meningkatnya hotel yang dijual bukan semata persoalan properti, tetapi dapat menjadi sinyal mengenai keseimbangan sistem pariwisata yang perlu diperhatikan.

Bali disebut telah memberikan sinyal melalui pertumbuhan kapasitas yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan wisatawan, sedangkan Bandung mulai memperlihatkan pola yang dinilai memiliki kemiripan.

Fenomena tersebut dinilai belum menjadi alasan untuk panik, namun juga tidak seharusnya diabaikan karena tekanan pada pelaku usaha dapat semakin terlihat apabila ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan terus berlangsung.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung