Berita, Nasional

UGM Peringatkan Godzilla El Nino Ancam Pertanian, Bapanas Klaim Siap Antisipasi

Repelita.net

07 April 2026 14:14 WIB • 1,370 view

UGM Peringatkan Godzilla El Nino Ancam Pertanian, Bapanas Klaim Siap Antisipasi
Foto: Istimewa

Repelita Yogyakarta - Guru Besar Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino sejatinya merupakan siklus iklim alami yang telah berlangsung lama.

Namun, ia menambahkan bahwa perubahan iklim global yang terjadi saat ini telah membuat pola kemunculan El Nino menjadi semakin dinamis dan jauh lebih sulit untuk diprediksi secara akurat.

ADVERTISEMENT

Ketika fenomena ini muncul dalam kondisi yang sangat ekstrem, sektor pertanian langsung terkena imbasnya tanpa banyak ruang untuk melakukan penyesuaian.

"Kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa di pertanian, terutama dari sisi produksi," kata Bayu melalui keterangan tertulis yang dirilis pada Kamis, 2 April 2026.

Fenomena El Nino dengan tingkat intensitas sangat kuat, yang juga dijuluki sebagai Godzilla El Nino, diperkirakan bakal memicu kekeringan berkepanjangan di berbagai wilayah tropis termasuk Indonesia.

Kondisi kering ini muncul akibat peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, yang berisiko besar mengganggu sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Untuk menekan risiko kerugian yang mungkin timbul, Bayu mengingatkan tentang urgensi ketersediaan informasi cuaca yang akurat serta mudah diakses hingga tingkat petani di pelosok.

Dengan informasi yang memadai, para petani dapat menentukan waktu tanam yang tepat, memilih komoditas yang sesuai, serta mengatur pola budidaya secara lebih cerdas.

Informasi cuaca yang detail hingga level desa dinilai menjadi faktor penentu utama dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem seperti El Nino.

Bayu juga menekankan pentingnya pemanfaatan varietas tanaman yang sudah terbukti tahan terhadap kondisi kekeringan.

Komoditas seperti padi dan jagung yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar menjadi yang paling rentan terdampak oleh fenomena ini.

Tanpa upaya adaptasi yang serius, penurunan suplai air berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menyebabkan gagal panen secara massal.

"Varietas tahan kekeringan sudah dikembangkan, tinggal dimanfaatkan dengan baik agar risiko bisa ditekan," ujar dia menjelaskan.

Di tingkat teknis, inovasi seperti sistem irigasi hemat air dan teknologi pompanisasi juga dinilai cukup efektif sebagai langkah adaptasi di lapangan.

Teknologi tersebut dianggap mampu membantu menjaga pasokan air di tengah kondisi curah hujan yang menurun drastis akibat El Nino.

Namun keberhasilan dari berbagai upaya ini sangat bergantung pada pendampingan yang intensif di lapangan.

Di sinilah peran penting penyuluh pertanian dibutuhkan untuk menjembatani informasi dan teknologi agar sampai ke tangan petani.

"Kuncinya di komunikasi petani dan penyuluh. Kalau informasinya jelas, petani bisa ambil keputusan yang lebih tepat di lapangan," tutur Bayu.

Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengaku telah menyiapkan berbagai antisipasi untuk menghadapi potensi dampak El Nino.

Lembaga pengawas keseimbangan pangan ini telah menyiapkan dan mendistribusikan pupuk serta meningkatkan luas area tambah tanam sejak beberapa bulan lalu.

"Sudah dilakukan sejak beberapa bulan terakhir," katanya dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 4 April 2026.

Ketut mengklaim bahwa pemerintah memiliki pengalaman berharga dalam menghadapi fenomena El Nino sebelumnya pada periode 2023-2024.

Berbekal pengalaman itu, ia yakin pemerintah dapat menghadapi potensi dampak El Nino pada tahun ini melalui berbagai skema mitigasi dan antisipasi yang matang.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung