Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial dengan mengancam akan melakukan serangan besar-besaran jika Iran tidak membuka Selat Hormuz, sebuah sikap yang berbanding terbalik dengan pernyataannya sebelumnya yang mengaku akan lepas tangan dari urusan tersebut.
Awalnya Trump sempat mengumumkan pemberian waktu 48 jam yang berakhir pada Senin (6/4/2026), namun tenggat tersebut kemudian diperpanjang hingga Selasa (7/4/2026).
ADVERTISEMENT
Melalui platform Truth Social, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Teheran seperti pembangkit listrik, jembatan, hingga kilang minyak jika jalur pelayaran vital tersebut tidak dibuka sesuai batas waktu yang telah ia tentukan.
"Jika mereka tidak melakukan sesuatu hingga Selasa malam, mereka tidak akan memiliki pembangkit listrik dan tidak akan ada jembatan yang tersisa," ucap Trump dengan nada mengancam.
Tak lama setelah itu, Trump juga mengunggah pesan singkat di media sosialnya yang berbunyi "Tuesday, 8:00 P.M. Eastern Time!" tanpa menyebut Republik Islam Iran secara langsung maupun memberikan rincian tambahan.
Pernyataan terbaru Trump ini kontras dengan sikapnya sebelumnya yang memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan Selat Hormuz.
Ia bahkan sempat mengaku akan menarik pasukannya dari perang yang telah berlangsung selama lebih dari satu bulan ini.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa perang melawan Republik Islam Iran kemungkinan akan segera berakhir dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
"Menurutku, dalam dua atau tiga minggu lagi kita akan pergi, karena tidak ada alasan bagi kita untuk melakukan ini," katanya dalam jumpa pers di Gedung Putih belum lama ini.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling kuat bahwa Washington mulai mengarah pada akhir konflik yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Trump juga mengklaim bahwa berakhirnya perang tidak harus melalui kesepakatan formal dengan Iran karena diplomasi bukanlah syarat utama untuk menghentikan operasi militer.
Menurut Trump, satu-satunya tujuan Amerika Serikat adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir dalam waktu dekat.
Jika tujuan itu sudah tercapai, maka tidak ada alasan bagi AS untuk terus berada di medan konflik.
Namun kini, di tenggat waktu yang diperpanjang, Trump kembali bersikeras untuk membuka Selat Hormuz dengan ancaman penghancuran infrastruktur.
Sementara itu, Komandan Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya Iran, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, memberi peringatan keras kepada AS dan sekutunya.
“Pintu neraka akan terbuka untuk kalian, jika infrastruktur Iran diserang," tegasnya pada Sabtu malam (4/4/2026).
Sebagai balasan atas ancaman Trump, jenderal tersebut berjanji akan menghancurkan semua infrastruktur yang digunakan oleh militer AS di wilayah Timur Tengah.
Pejabat keamanan senior Iran itu juga mengatakan bahwa Teheran bergerak maju sesuai dengan rencana operasional yang tepat dan memperingatkan akan adanya kejutan besar bagi AS dan rezim Zionis Israel.
Ia juga menyebut bahwa daftar target serangan AS dan Israel terhadap Iran dinilai tidak tepat sasaran.
"Jelas, daftar target AS tidak tepat, tetapi Iran bergerak maju persis sesuai dengan rencana dan daftar targetnya," katanya.
Jenderal Ali juga mengatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran telah gagal, terutama setelah Teheran berhasil menembak jatuh sejumlah pesawat Amerika.
“Itu tidak masuk akal. Kami memiliki kejutan besar untuk AS dan rezim Israel, hanya butuh sedikit waktu," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Iran telah belajar dengan baik dalam perang asimetris bagaimana melemahkan musuh.
“Dan bahkan hari ini, AS telah gagal dalam strategi perang cepat dan mudahnya terhadap Iran,” pungkas jenderal tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok