Berita, Timur Tengah

Trump Minta Korea Selatan Bantu Hadapi Iran di Selat Hormuz

Repelita.net

06 May 2026 20:35 WIB • 780 view

Trump Minta Korea Selatan Bantu Hadapi Iran di Selat Hormuz
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meminta bantuan kepada negara-negara lain untuk menghadapi Iran di kawasan Selat Hormuz.

Langkah ini dinilai menunjukkan bahwa Washington tampak kewalahan dalam menjalankan blokade maritim secara sendirian di perairan strategis tersebut.

ADVERTISEMENT

Kali ini, Trump secara khusus meminta bantuan kepada salah satu sekutunya di Asia, yakni Korea Selatan.

Melalui akun media sosial pribadinya, orang nomor satu di Amerika itu mengajak Seoul untuk bergabung dalam misi melawan Republik Islam Iran.

Seruan ini disampaikan Trump setelah sebuah kapal kargo milik Korea Selatan bernama HMM Namu dilaporkan terbakar di perairan Selat Hormuz pada Senin (4/5).

Trump menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal komersial tersebut.

"Iran telah melancarkan beberapa serangan terhadap negara-negara yang tidak terkait sehubungan dengan pergerakan kapal Project Freedom, termasuk sebuah kapal kargo Korea Selatan," tulis Trump di Truth Social pada Rabu (6/5/2026).

"Mungkin sudah saatnya Korea Selatan datang dan bergabung dalam misi ini," lanjut pernyataan mantan presiden yang kembali menjabat tersebut.

Namun sejumlah pejabat di Korea Selatan menolak seruan Trump dan memilih untuk tetap hati-hati dalam merespons ajakan tersebut.

Korea Selatan hingga saat ini masih melakukan penyelidikan mendalam terkait penyebab kebakaran kapal HMM Namu.

Menurut laporan dari South China Morning Post, para pejabat di Seoul mengindikasikan bahwa negaranya kemungkinan akan menunda keputusan untuk bergabung dengan misi Amerika Serikat.

Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat telah meluncurkan operasi bernama Project Freedom yang bertujuan mengawal kapal-kapal komersial keluar dari Selat Hormuz.

Para pejabat Korea Selatan menyatakan bahwa keterlibatan militer di luar negeri akan memerlukan resolusi dari Dewan Keamanan PBB dan persetujuan Majelis Nasional.

Seoul menegaskan bahwa prioritas utama negaranya saat ini adalah menentukan penyebab pasti kebakaran kapal tersebut.

Jika pun pada akhirnya bergabung dengan misi Amerika Serikat, Korea Selatan tidak akan bergerak sendirian di kawasan itu.

Seoul akan menunggu Uni Eropa, Jepang, dan negara-negara lain terlebih dahulu menyetujui pembentukan armada pengawal multinasional.

Seorang ilmuwan politik bernama Jun Bong-geun mengatakan bahwa kehati-hatian Korea Selatan mencerminkan kekhawatiran terhadap negara tetangganya di utara yang memiliki senjata nuklir.

Ia juga mempertanyakan apakah seruan Trump tersebut benar-benar merupakan permintaan operasional yang serius mengingat tidak adanya rencana konkret selain unggahan di media sosial.

Sementara itu, saling klaim serangan juga terjadi antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz pada hari yang sama.

Rudal Iran dilaporkan telah menghantam dua kapal penghancur Amerika Serikat yang disebut nekat ingin menembus Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026).

Dua rudal menghantam kapal fregat AS saat melintas di dekat Pelabuhan Jask setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan navigasi dari Teheran.

Militer Republik Islam Iran menyatakan bahwa kapal AS akhirnya terpaksa putar balik dan meninggalkan area Selat Hormuz.

Namun kabar ini dibantah oleh Komando Pusat AS atau CENTCOM yang mengklaim tidak ada kapal Angkatan Laut Amerika yang terkena tembakan.

Sebaliknya, militer AS melaporkan telah menghancurkan kapal-kapal kecil Iran serta mencegat rudal jelajah dan drone yang diluncurkan oleh Teheran.

Kabar bantahan ini kemudian ditepis oleh Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.

IRGC menyatakan dalam sebuah pernyataan resmi bahwa tidak ada kapal komersial atau kapal tanker yang melintas di jalur air strategis tersebut selama beberapa jam terakhir.

“Klaim oleh pejabat AS tidak berdasar dan sepenuhnya bohong,” tegas pernyataan resmi IRGC.

Insiden ini terjadi di tengah berlangsungnya operasi Project Freedom yang digulirkan AS untuk mengawal kapal-kapal melalui blokade yang diberlakukan Iran di wilayah tersebut.

Di dalam negeri Iran sendiri, terjadi mobilisasi warga besar-besaran akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Angka relawan yang mendaftar untuk membela negara disebut sangat tinggi, mulai dari 14 juta hingga lebih dari 30 juta warga.

Mereka diklaim telah mendaftar dalam kampanye nasional bertajuk Jan Fada sebagai bentuk kesiapan mempertahankan kedaulatan.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dilaporkan menjadi salah satu yang turut mendaftar dalam kampanye tersebut.

Media lokal setempat melaporkan antusiasme warga yang sangat tinggi, termasuk dari kalangan pengantin baru dan publik umum, yang turun ke jalan menunjukkan solidaritas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung