Repelita [Yogyakarta] - Aktivis muda Tio Ardianto menyampaikan kritik keras terhadap legitimasi moral pemerintahan saat ini yang dinilai cacat hukum sejak proses pencalonannya.
Ia menilai bahwa rekam jejak penyalahgunaan hukum demi melanggengkan kekuasaan telah mencederai etika publik dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap komitmen keadilan.
ADVERTISEMENT
Sikap menghalalkan segala cara demi meraih serta mempertahankan kekuasaan tersebut dianggap sebagai pemicu utama kehancuran moralitas politik di tingkat tertinggi negara.
Pernyataan menohok tersebut diutarakan dalam mimbar akademis yang digelar di lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada tanggal 19 Mei 2026.
"Mana mungkin kita percaya bahwa orang yang namanya Prabowo Subianto akan menegakkan hukum sementara wakil presidennya saja itu cacat hukum," ujar Tio Ardianto secara terbuka.
Ia menambahkan bahwa sejak awal menjabat, penguasa baru langsung mempertontonkan pelanggaran regulasi dengan mengangkat perwira aktif ke dalam jajaran birokrasi struktural kabinet.
Ketika pelanggaran tersebut menuai kritik publik, otoritas terkait dinilai lebih memilih mengubah aturan undang-undang daripada mencopot pejabat yang bermasalah tersebut.
Menurut pandangannya, kemarahan publik yang meluas saat ini harus segera dikonversi menjadi sebuah gerakan perubahan yang lebih terorganisir dan bersifat revolusioner.
"Kalau kekuasaan hari ini sejak mau berkuasa saja itu rela menghalalkan segala cara, mana mungkin selama lima tahun dia berkuasa dia akan pakai etika," cetus aktivis muda itu.
Ia mengkritik keras sikap sebagian elite kelompok masyarakat sipil serta organisasi keagamaan yang kini dianggap melunak dan terbuai oleh konsesi ekonomi dari pemerintah.
Kondisi tersebut menyebabkan gerakan perlawanan rakyat di berbagai daerah sempat mengalami fragmentasi dan kehilangan momentum konsisten pasca-aksi demonstrasi besar-besaran.
Oleh karena itu, ia mendorong para mahasiswa untuk mengambil peran strategis dalam mengisi ruang-ruang kosong perjuangan yang ditinggalkan oleh para elite terdahulu.
Ia meyakini bahwa kampus UII yang memiliki rekam jejak panjang dalam sejarah pergerakan nasional mampu menjadi pelopor kebangkitan gerakan revolusi moral ke depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok