Repelita Teluk Persia - Rusia resmi mengerahkan enam kapal selam, termasuk dua bertenaga nuklir, di Selat Hormuz untuk melindungi infrastruktur Iran, membuat Timur Tengah berada di tepi jurang perang global dengan alarm bahaya yang menyala bagi AS dan Israel.
Pengerahan armada siluman ini bukan sekadar latihan, melainkan misi rahasia untuk mencegah Amerika Serikat dan Zionis Israel memasuki selat atau mendekati pantai Iran secara bebas, karena setiap langkah mereka kini berisiko memicu insiden langsung dengan Moskow.
ADVERTISEMENT
Selat Hormuz adalah gerbang minyak dunia yang mengalirkan hampir seperlima pasokan global, dan kehadiran kapal selam nuklir Rusia mengubah kawasan ini menjadi papan catur perang dunia.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi tenggat 10-15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir baru serta mengerahkan kapal induk USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, namun Rusia kini menambah lapisan ancaman baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bagi Israel, ini adalah mimpi buruk karena selama ini Tel Aviv bebas bergerak di udara dan laut untuk menekan Teheran, tetapi kini langkah mereka bisa dihadang kapal selam Rusia yang sulit dideteksi.
Dengan tambahan payung nuklir dari Moskow, posisi tawar Iran semakin kuat di tengah perundingan dengan AS, sementara Perdana Menteri Polandia Donald Tusk telah mengimbau warganya segera meninggalkan Iran karena potensi konflik bersenjata masih tinggi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Confirmed presence of a Russian nuclear submarine near the Strait of Hormuz.
— GBX (@GBX_Press) April 1, 2026
Moscow has officially deployed six submarines, including two nuclear ones, near the Strait of Hormuz for a discreet mission to protect Iranian infrastructure, according to reports. Their primary role is… pic.twitter.com/Y3eVK0Y4BS