Repelita Jakarta - Penulis ternama Tere Liye melayangkan ulasan tajam yang menguliti argumen pemerintah perihal ketiadaan hubungan langsung antara fluktuasi mata uang asing dengan pola konsumsi masyarakat bawah.
Sastrawan tersebut mengawali respons tertulisnya di media sosial dengan sebuah kalimat pembuka yang sangat menohok, Presiden ambyar! Itu benar, rakyat itu TIDAK pakai dollar.
ADVERTISEMENT
Guna memperkuat argumentasinya, Tere Liye menyajikan lampiran data statistik resmi dari Badan Pusat Statistik yang merekam aktivitas perdagangan internasional Indonesia secara berkala di ruang publik.
Melalui paparan data tersebut, dirinya merinci volume perdagangan luar negeri yang dilakukan oleh negara ini setiap bulannya dengan menuliskan, Kita tuh impor sekitar 20 milliar dollar, atau setara 330 Triliun rupiah setiap bulannya. Apa saja yang diimpor? Silahkan cek sendiri tabel.
Tere Liye kemudian membedah dampak sistemik dari penurunan nilai tukar rupiah sebesar sepuluh persen semenjak bergantinya nakhoda kepemimpinan nasional yang otomatis mengerek harga komoditas impor.
Ia menilai lonjakan beban operasional tersebut memaksa para pelaku industri domestik menaikkan harga jual produk di pasar agar perusahaan mereka terhindar dari risiko kebangkrutan massal.
Penulis kawakan itu menuding sikap pemerintah yang terkesan menyederhanakan persoalan krusial ini sebagai sebuah bentuk penolakan terhadap fakta yang dibarengi dengan ambisi mengejar megaproyek fisik semata.
Dirinya menjabarkan kekhawatiran tersebut melalui untaian kata, Rakyat Indonesia itu memang TIDAK pakai dollar. Tapi hanya presiden ambyar-lah yang menggampangkan masalah ini. Denial habis-habisan. Sambil sibuk dengan proyek mercu suarnya.
Lebih lanjut, Tere Liye memproyeksikan kegagalan pemenuhan gizi pada program Makan Bergizi Gratis jika nilai tukar mata uang asing tersebut terus menembus level psikologis baru dalam beberapa waktu ke depan.
Risiko penurunan kualitas pangan tersebut dijabarkannya karena mayoritas pasokan komoditas gandum, gula, jagung, susu, kedelai, hingga bahan baku kemasan masih sangat bergantung pada pasar global.
Ia menuangkan prediksi keprihatinan tersebut dengan menuliskan kalimat, Yang ironisnya, jika dollar betulan tembus 18.000, itu menu MBG akan semakin kacau balau. Karena gandum, gula, jagung, susu, kedelai, bahkan plastik kemasan pun impor semua dari luar negeri. Menu MBG akan semakin seupil, tidak bergizi, dan tidak enak.
Pada akhir ulasannya, Tere Liye menyindir ketenangan para elite politik yang tidak pernah merasakan jeritan ekonomi karena mereka diuntungkan oleh bisnis komoditas tambang yang menggunakan denominasi asing.
Sastrawan tersebut menutup catatan kritisnya dengan melontarkan kalimat bernada sindiran emosional, Teruslah santai, Wo. Elu memang tidak perlu pusing-pusing melihat kenaikan harga. Apanya yang pusing? Buat orang yang punya usaha batubara, tambang, dkk yang ekspor ke luar negeri, mereka justeru tertawa bahak saat rupiah melemah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok