Repelita Jakarta - Pengamat Politik dan Kebangsaan M Rizal Fadillah menyampaikan pandangan kritisnya pada tanggal 5 November 2026 mengenai situasi politik nasional terkini.
Ia menilai gerakan terselubung yang berjalan sejak tahun 2025 demi menyokong kepentingan mantan Presiden Joko Widodo telah menemui kegagalan total.
ADVERTISEMENT
Kondisi tersebut terjadi sesudah terbongkarnya operasi intelijen penyadapan tanpa izin yang diarsiteki oleh mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
M Rizal Fadillah mengungkapkan dampak pembongkaran skandal masif ini memicu kepanikan besar di antara pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan tersebut.
Kekhawatiran mendalam mengenai operasi pembersihan internal membuat sejumlah figur yang memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo memilih bungkam.
Masyarakat kini menaruh perhatian sangat besar untuk mengetahui tingkat keterlibatan figur-figur yang mendadak tidak diketahui keberadaannya tersebut.
Terdapat empat nama utama yang selama ini bertindak sebagai jembatan komunikasi di lingkaran terdalam istana bentukan Presiden Prabowo Subianto.
Para tokoh sentral tersebut meliputi Sjafrie Sjamsoeddin pada sektor militer, Hashim Djojohadikusumo bidang bisnis, Sufmi Dasco Ahmad jalur politik, serta Teddy Indra Wijaya wilayah privat.
Walaupun memiliki spesialisasi peranan masing-masing, para menteri dan pejabat teras tersebut dipandang mempunyai kemampuan melakukan manuver lintas sektor.
Figur Hashim Djojohadikusumo serta Sjafrie Sjamsoeddin dipandang memiliki loyalitas kokoh sehingga mendapatkan tingkat kepercayaan penuh dari kepala negara saat ini.
Sebaliknya peranan Teddy Indra Wijaya beserta Sufmi Dasco Ahmad dinilai penuh kontroversi dan dianggap rawan terombang-ambing oleh benturan berbagai kepentingan.
Aktivitas senyap yang menargetkan internal istana ini dicurigai kuat memanfaatkan akses dari figur dalam karena telah berlangsung dalam durasi cukup lama.
Penangkapan terhadap Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada akhirnya membuka kotak pandora mengenai arah perluasan jaringan intelijen ilegal yang dibangunnya.
M Rizal Fadillah memandang kemungkinan keterlibatan Hashim dan Sjafrie sangat kecil, sementara posisi Teddy serta Dasco dinilai jauh lebih terbuka untuk diinvestigasi.
Sikap bungkam dari Teddy dan Dasco di tengah guncangan skandal pengkhianatan ini dinilai memunculkan tanda tanya besar mengenai keterkaitan mereka dengan Listyo.
Proses hukum dan bergulirnya waktu dipastikan segera mengungkap seluruh teka-teki dari konspirasi besar yang membutuhkan kesiapan ratusan ribu personel pengaman ini.
Langkah mendesak yang perlu diambil aparat penegak hukum saat ini adalah segera melakukan penangkapan serta pemeriksaan intensif terhadap Joko Widodo.
M Rizal Fadillah menekankan bahwa pengusutan skandal sabotase negara ini tidak boleh berhenti hanya pada level pelaku lapangan seperti Jenderal Listyo Sigit.
Secara logika dasar, mantan Kapolri tersebut tidak mempunyai motif personal yang bersifat mendasar untuk menggerakkan operasi penyadapan berskala masif.
Terdapat kekuatan figur besar yang memberikan instruksi di balik pergerakan tersebut, di mana Joko Widodo diduga kuat menjadi penikmat utama data sadapan.
Pola kepemimpinan Joko Widodo selama ini dinilai sangat identik dengan pemanfaatan rekam data kompromat sebagai instrumen menyandera posisi politik tokoh lain.
Melalui penguasaan basis data krusial tersebut, figur kawan maupun lawan politik dipaksa tunduk dan kehilangan daya tawar di hadapan kekuasaan.
Pendekatan politik ini tidak mengincar materi finansial, melainkan kepatuhan mutlak di mana pembangkangan akan berujung pada penyingkiran dari panggung kekuasaan.
Upaya membongkar habis jaringan penyadapan yang mengarah pada tindakan makar ini harus dituntaskan karena diyakini menjadi indikasi reinkarnasi gerakan terlarang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Silakan beri tahu saya jika Anda memerlukan penyesuaian gaya bahasa atau penambahan latar belakang kronologi kasus untuk memperkaya naskah berita ini.