Repelita Tel Aviv - Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah serangan rudal yang dilancarkan oleh Iran menghantam wilayah Tel Aviv sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi, memicu kepanikan di kalangan warga sipil.
Pihak berwenang Israel mengonfirmasi bahwa rentetan serangan balasan yang dilakukan oleh Teheran ini berhasil memakan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan yang cukup parah di sejumlah area pemukiman penduduk.
ADVERTISEMENT
Militer Israel melaporkan bahwa setidaknya ada lima gelombang serangan yang terjadi dalam kurun waktu lebih dari lima jam, memaksa sistem pertahanan udara bekerja ekstra keras untuk mencegat proyektil yang masuk.
Kondisi ini memaksa otoritas setempat untuk membunyikan sirene peringatan di berbagai penjuru kota, mengingatkan warga untuk segera mencari perlindungan dari kemungkinan hantaman rudal susulan.
Peristiwa ini terjadi tepat sebulan setelah konflik besar pecah di wilayah tersebut, menandai eskalasi yang semakin dalam antara Iran dan Israel beserta sekutunya.
Layanan medis darurat Magen David Adom atau MDA melaporkan bahwa seorang pria tewas di Tel Aviv akibat terkena hantaman salah satu rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran.
Selain korban jiwa tersebut, tim medis juga menangani dua pria berusia 65 tahun dan 50 tahun yang mengalami luka-luka dalam insiden terpisah yang terjadi di kota yang sama akibat serangan rudal.
Serangan ini ternyata tidak hanya menyasar pusat kota Tel Aviv, karena dua orang lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka di kota Kuseife yang terletak di bagian selatan wilayah Israel.
Koresponden di lapangan melaporkan bahwa suara ledakan keras terdengar hingga wilayah Jericho di Tepi Barat, menunjukkan jangkauan serangan yang cukup luas dari rudal-rudal yang diluncurkan.
Sementara itu, rekaman yang diambil oleh saksi mata memperlihatkan rentetan cahaya rudal yang melintas di langit Yerusalem, memicu kepanikan warga yang segera berhamburan mencari tempat perlindungan.
Salah satu temuan paling mengejutkan dalam serangan ini adalah dugaan penggunaan amunisi klaster oleh pihak Iran yang menargetkan area pemukiman warga sipil.
Pejabat Komando Pertahanan Dalam Negeri, Miki David, mengungkapkan bahwa sebuah apartemen tempat tinggal terkena jenis amunisi ini, yang bekerja dengan cara meledak di udara dan menyebarkan bom-bom kecil ke area yang luas.
Penggunaan bom klaster sangat berbahaya bagi warga sipil karena cakupan ledakannya yang luas dan sulit diprediksi, sehingga meningkatkan risiko korban jiwa di kalangan penduduk.
Foto-foto yang diambil dari lokasi kejadian menunjukkan gedung-gedung yang hancur dengan puing-puing berserakan di pintu masuk, memperlihatkan skala kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan tersebut.
Meskipun Iran dan Israel sebelumnya sering saling tuduh terkait penggunaan bom tandan, bukti kerusakan di apartemen Tel Aviv ini menjadi sorotan tajam dari dunia internasional.
Media lokal menyebutkan bahwa serangan kali ini tidak hanya datang dari Iran secara langsung, karena Komando Pertahanan Dalam Negeri militer mengidentifikasi adanya serangan bersama yang melibatkan kelompok Hizbullah dari Lebanon.
Serangan gabungan antara Iran dan Hizbullah ini memicu bunyi sirene di wilayah Israel utara hingga Dataran Tinggi Golan yang berbatasan langsung dengan Suriah dan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya memang sudah memberi peringatan keras bahwa Teheran akan menuntut harga mahal dari Israel sebagai balasan atas serangan yang mengenai pabrik baja dan situs nuklir milik Iran.
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, jumlah korban sipil terus bertambah dengan tercatat 18 warga sipil di pihak Israel telah kehilangan nyawa akibat konflik yang berkepanjangan ini.
Dari total tersebut, serangan rudal Iran secara spesifik merenggut nyawa 13 warga Israel, termasuk empat anak di bawah umur yang menjadi korban dalam berbagai insiden serangan.
Selain warga lokal Israel, konflik ini juga berdampak pada warga negara asing yang berada di wilayah tersebut, dengan pihak berwenang mengonfirmasi seorang pengasuh asal Filipina menjadi korban tewas.
Seorang warga negara Thailand juga turut menjadi korban tewas dalam rangkaian serangan udara yang terjadi selama satu bulan terakhir ini, menambah daftar korban dari kalangan pekerja asing.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok