Repelita [Jakarta] - Pemerhati isu politik, Rizal Fadillah, menampilkan gelombang unjuk rasa mahasiswa terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Rizal, perlawanan ini menandakan eskalasi ketidakpuasan masyarakat yang meluas terhadap arah kebijakan yang diambil pemerintah saat ini.
ADVERTISEMENT
Ia mengamati bahwa mahasiswa kini memandang Prabowo dan Gibran sebagai satu kesatuan komando yang harus memikul beban tanggung jawab bersama atas berbagai polemik bangsa.
"Mahasiswa mulai gerah dengan ulah dan kerja pemerintah. Prabowo-Gibran satu kesatuan. Serangan pada keduanya merupakan bukti objektivitas gerakan sehingga terhindar dari isu kepentingan pragmatis dan politik," ujar Rizal, Minggu, 14 Juni 2026.
Rizal menilai pendekatan mahasiswa yang menyasar keduanya secara sekaligus menunjukkan sikap kritis yang objektif agar tidak terjebak dalam skenario politik tertentu.
Ia pun memaparkan lima tuntutan utama mahasiswa yang dianggap mencerminkan kegelisahan masyarakat terhadap kondisi nasional saat ini.
Lima tuntutan sebagai awal aksi berkelanjutan adalah isu publik yang strategis, baik stop pemborosan anggaran, hentikan MBG dan KMP, turunkan harga BBM, penggerusan hak asasi sipil, maupun pengakuan dosa politik, ucapnya.
Menurutnya, pemerintah akan kesulitan memenuhi daftar tuntutan tersebut dalam waktu singkat, sehingga potensi aksi inflasi lanjutan yang diprediksi akan terus menguat.
Jika aksi tersebut semakin masif di berbagai daerah, ia memperkirakan tuntutan mahasiswa akan semakin radikal, yakni menuntut penguasa untuk menduduki jabatan tersebut.
“Jika terjadi masif di berbagai daerah, maka akan ada satu tuntutan seragam yaitu mundur atau makzulkan Prabowo-Gibran,” tegasnya.
Rizal menambahkan bahwa keterlibatan pengaruh Presiden ke-7 RI, Jokowi, dalam pemerintahan saat ini menciptakan pola kekuasaan yang disebutnya sangat membahayakan stabilitas negara.
"Jokowi, Prabowo, dan Gibran adalah segitiga bermuda yang membahayakan bangsa. Indonesia hilang dan tenggelam di zona segitiga titik ketiga orang ini," imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa situasi nasional saat ini berada dalam kondisi gawat karena pemerintah dinilai telah kehilangan kepercayaan rakyatnya.
"Aksi mahasiswa serta aksi lain di berbagai titik menggambarkan situasi memang gawat. Pemerintahan Prabowo-Gibran semakin kehilangan harapan dan kepercayaan," bebernya.
Sebagai langkah penyelamatan, ia menyarankan Presiden Prabowo untuk segera membuka ruang dialog dan benar-benar mendengarkan keinginan masyarakat.
“Satu-satunya jalan penyelamatan adalah mendengar, melihat, serta berpihak 100 persen kepada aspirasi dan kehendak rakyat,” kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok