Repelita Jakarta - Lemahnya posisi nilai tukar rupiah yang kini merosot tajam hingga menembus angka 17.600 per dolar Amerika Serikat memicu kecemasan mendalam di sektor perekonomian nasional, meskipun Presiden Prabowo Subianto mengimbau publik untuk tetap tenang dengan dalih warga pedesaan tidak menggunakan mata uang asing tersebut dalam aktivitas harian.
Pernyataan kepala negara yang terkesan meremehkan dampak krisis moneter tersebut langsung menuai reaksi keras dari pakar ekonomi Prof Ferry Latuhihin, yang menilai bahwa argumen tersebut mengindikasikan adanya pasokan data serta informasi yang keliru dari lingkaran orang-orang terdekat presiden mengenai realitas gejolak pasar finansial.
ADVERTISEMENT
Sang pakar menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat di wilayah pelosok sekalipun dipastikan tidak akan bisa mengelak dari efek domino depresiasi mata uang Garuda, mengingat struktur pemenuhan hajat hidup orang banyak di dalam negeri masih sangat bergantung pada kebijakan impor komoditas vital nasional.
"Salah pak, kalau dolar naik semua orang kena pak. Orang utan juga kena pak," kata Ferry dikutip dari unggahan akun media sosial X milik Hendri Satrio yang dipublikasikan pada hari Sabtu (16/5/2026).
Ketergantungan struktural terhadap impor bahan bakar minyak, komoditas gula, kacang kedelai, hingga pasokan pangan tertentu mengharuskan skema pembayaran menggunakan mata uang dolar, sehingga volatilitas kurs valuta asing secara otomatis akan langsung mengerek naik biaya produksi serta distribusi logistik sampai ke tangan konsumen akhir.
"Impor BBM itu bayar pakai apa pak kalau bukan dolar? Kalau dolar naik, apalagi harga minyak naik, semua orang kena pak. Dolar naik, harga minyak naik emang produksi enggak pakai minyak pak? Itu akan dipasang ke harga konsumen akhir ya sampai sekarang minyak goreng aja pak itu udah naik 25 persen loh. Yang harga 36 ribu udah 45 ribu," jelas Ferry dalam kompilasi video di platform Instagram.
Masyarakat di daerah terpencil yang tidak memiliki pendapatan tetap dipastikan akan menjadi korban yang paling terpukul dari inflasi barang pokok ini, karena meskipun mereka bertransaksi menggunakan mata uang domestik, daya beli mereka akan langsung merosot akibat penyesuaian harga jual komoditas konsumsi sehari-hari di pasar tradisional.
"Memang mereka tidak pegang dolar, pegang rupiah juga kadang-kadang kok namanya orang desa enggak punya income apa-apa tapi kalau bapak bilang orang desa tidak pegang dolar dan tidak menjadi korban daripada dolar, bapak salah," katanya menambahkan argumentasi hukum pasar.
Menutup seluruh rangkaian ulasan kritisnya, ekonom senior ini kembali memberikan peringatan terbuka kepada sang presiden agar tidak mentah-mentah menelan laporan yang disajikan oleh jajaran menteri atau staf kepresidenan yang berusaha menutupi keparahan situasi riil perekonomian makro di tanah air saat ini.
"Bapak dibohongin oleh orang-orang bapak," tutupnya memungkasi pernyataan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok