Repelita Jakarta - Unggahan akun @tngkukhadafi di Threads pada 25 September 2026 kembali menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2025.
Dalam unggahannya, @tngkukhadafi menampilkan video tahun 2025 dan mengkritik cara membandingkan jumlah kasus keracunan dengan total penerima MBG untuk menggambarkan tingkat keberhasilan program.
ADVERTISEMENT
"NYAWA ORANG BUKAN ANGKA 😭🤦
Jumlah kasus keracunan MBG atau sakit perut katanya kurang dari 200 orang. Wtf sakit perut dan kurang dari 200 orang?! Udah gila kau, ngomongin rasio lagi, dari 200 ke 3jt orang sekitar 0,005%. Terus dia simpulin sendiri tingkat keberhasilan program nya capai 99,99%.
Ampuunnn, Prabowo 😭"
Pernyataan yang dikritik tersebut disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 5 Mei 2025, ketika ia menyebut jumlah penerima MBG telah mencapai lebih dari 3 juta orang dan kasus keracunan berada di bawah 200 orang.
Prabowo saat itu menghitung angka tersebut sekitar 0,005 persen dari total penerima, lalu menyebut tingkat keberhasilan program mencapai 99,99 persen. (DW News)
@tngkukhadafi kemudian menegaskan bahwa video yang dibagikannya merupakan rekaman tahun 2025, sekaligus menyampaikan kritik terhadap cara penyampaian informasi terkait kasus tersebut.
"Ini Video tahun 2025 yess. Poin nya dia lihat nyawa orang kayak angka aja udah, nir empati. Sama ingpo ingpo nya."
Unggahan tersebut juga mendapat tanggapan dari pengguna lain yang menyoroti jumlah korban dalam kasus keracunan MBG di Sidoarjo.
Akun @wisesetyanto menulis, "Itu yg di salah satu ponpes Sidoarjo aja 600an. Kok bisa2nya bilang di bawah 200 🥱"
Data terbaru yang diberitakan pada September 2026 mencatat total korban dugaan keracunan MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, mencapai 664 orang, dengan 77 orang masih menjalani perawatan pada 3 September 2026. (detikcom)
Perdebatan di media sosial tersebut memperlihatkan adanya sorotan terhadap penggunaan angka persentase dalam menilai pelaksanaan MBG, terutama ketika angka penerima manfaat dibandingkan dengan jumlah orang yang mengalami gangguan kesehatan.
Konteks pernyataan Prabowo pada Mei 2025 merujuk pada kondisi saat itu, sehingga angka di bawah 200 orang yang disebutnya tidak dapat secara otomatis digunakan untuk menggambarkan seluruh kasus MBG yang terjadi setelah periode tersebut. (DW News)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads