Repelita Nganjuk - Dinamika penguatan kurs valuta asing terhadap mata uang dalam negeri dinilai tidak memberikan dampak yang berarti bagi tatanan kehidupan riil masyarakat yang berada di wilayah pedesaan. Pandangan penuh rasa optimis tersebut disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto saat beliau berpidato dalam acara peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah yang diselenggarakan di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, Kepala Negara memberikan sebuah jaminan moral bahwa jajaran pemerintahannya memiliki komitmen yang sangat kuat untuk selalu menjaga dan mengimplementasikan seluruh nilai dasar perjuangan dari para tokoh pendiri bangsa.
Beliau juga sangat menyayangkan cara pandang pesimistis dari berbagai kalangan terkait daya tahan perekonomian domestik dengan menyampaikan pernyataan langsung "Jadi, saya yakin sekarang ada yang selalu apa... saya nggak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan kolaps, akan keos, akan apa, rupiah begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok," di hadapan para hadirin. Lebih lanjut, mantan Menteri Pertahanan ini menjabarkan sejumlah indikator kekuatan ekonomi yang tercermin dari kepastian pasokan pangan serta kemandirian pada sektor energi nasional yang hingga kini posisinya masih berada pada batas yang aman.
ADVERTISEMENT
Situasi di dalam negeri yang cenderung kondusif ini disebut sangat bertolak belakang dengan kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian di mana beliau menegaskan melalui ucapan "Pangan aman. Energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," sebagai bukti ketangguhan domestik. Oleh karena itu, Presiden Prabowo melayangkan sebuah peringatan yang sangat prinsipil bagi seluruh jajaran pimpinan publik agar selalu menjaga ketulusan niat bekerja mereka hanya untuk kepentingan masyarakat luas serta mempertahankan kedaulatan negara.
Ketegasan dalam memimpin tersebut diutarakan secara langsung oleh beliau melalui sebuah kalimat "Tapi, para unsur pimpinan yang harus setia kepada NKRI, bukan rakyat, rakyat pasti setia. Nggak ada pilihan," sebagai pemacu semangat korps birokrasi. Saat menyudahi arahannya, Pemimpin Tertinggi Republik Indonesia ini melontarkan sebuah kritik yang tajam bagi oknum pejabat yang kerap menggaungkan slogan nasionalisme namun tindakan nyata mereka di lapangan justru berbalik arah ketika memegang kekuasaan.
Sikap kritis tersebut dipaparkan secara lugas melalui kalimat penutup pidatonya yang berbunyi "Ini banyak unsur pimpinan. Teriak-teriak NKRI, tapi nggak jelas. Begitu punya kekuasaan. Tidak berpihak kepada bangsa sendiri, tidak berpihak kepada rakyat Indonesia," sebelum akhirnya beliau meninggalkan area podium utama.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok