Berita, Nasional

Prabowo Memimpin Secara Amatiran

Repelita.net

01 April 2026 12:47 WIB • 1,234 view

Prabowo Memimpin Secara Amatiran
Foto: Istimewa

Repelita Bandung - Pendapat pengamat politik M Rizal Fadillah menyebut kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto masih bersifat amatiran dengan tingkat ketidakpastian pengelolaan negara yang cukup tinggi mencapai di atas 75 persen.

Menurutnya hal itu bukan berarti pemerintahan sebelumnya lebih profesional karena kenyataannya juga belum tentu demikian.

ADVERTISEMENT

Namun berbagai janji kerakyatan dalam kepemimpinan tersebut justru mengalami kegagalan total sehingga harapan masyarakat pupus.

Apalagi jika dikaitkan dengan janji-janji besar yang dilontarkan saat kampanye maka hasilnya sudah pasti mengecewakan.

Kabinet yang dibentuk terkesan gemuk dan banyak anggotanya hanya sibuk bergoyang tanpa menghasilkan kinerja yang bermutu.

Presiden dinilai sangat terampil mengancam berbagai pihak sementara kinerjanya sendiri menunjukkan sikap yang ambivalen.

Awalnya ia melakukan baiat kepada Xi Jinping untuk mendapatkan dukungan menjadi presiden dengan jaminan dari Jokowi kemudian melapor setelah dilantik bahwa ia siap menjalankan tugas.

Saat terjadi kerusuhan yang diduga dirancang untuk mengingatkan ia pun tergesa-gesa menghadap Xi Jinping kembali.

Kemudian ia berteriak heroik tentang antek asing namun tidak lama kemudian malah merapat kepada Donald Trump dengan bayang-bayang Netanyahu.

BOP dianggap sebagai tipu daya perdamaian yang membuat Prabowo terikat sebagai antek dan terbelenggu oleh tali ART atau asisten rumah Trump.

Trump dan Netanyahu menyerang Iran sementara Xi Jinping dan Putin mendukung Iran sehingga Prabowo kelimpungan ketika usulannya untuk menjadi juru damai dianggap tidak berharga.

Iran lebih memilih Pakistan dan Turki sebagai mitra sehingga BOP menjadi perisai sial bagi Indonesia.

Prabowo yang didesak rakyat untuk keluar dari kebingungan justru tampak tidak tahu harus berbuat apa.

Kapal tanker Indonesia dilarang Iran melintas di Selat Hormuz sementara tentara di Lebanon diserang Israel hingga dua prajurit TNI gugur.

Diplomasi luar negeri ala Prabowo berjalan amburadul tanpa martabat sehingga disebut diplomacy without dignity.

Isu dalam negeri yang berat justru muncul dari program andalan pemerintah sendiri yaitu MBG.

Alih-alih dirasakan manfaat besarnya oleh anak didik yang menjadi konsumen MBG ternyata jauh lebih menguntungkan bagi pengelola dapur bahkan aroma korupsi sangat tercium kuat.

Jangan sampai karena ini program prioritas maka pengawasan dan akuntabilitas menjadi terabaikan.

MBG dijadikan alasan pembenar dan pemaaf seperti halnya dulu Covid-19 digunakan sebagai proyek kebolehan untuk segalanya termasuk korupsi.

Kebobrokan pemerintahan sebelumnya tidak dibenahi sama sekali oleh pemerintahan saat ini.

Tuntutan rakyat agar membongkar korupsi ijazah palsu nepotisme pengkhianatan negara serta utang-utang luar negeri tidak mendapatkan respons yang memadai.

Terkesan Prabowo justru membiarkan bahkan menikmati situasi tersebut sambil sibuk membangun hubungan puja puji palsu.

Orientasi kerakyatan hanya sebatas omongan kosong khas penguasa amatir.

Prabowo dinilai belum memiliki kapasitas sebagai presiden apalagi didampingi oleh sosok bocah ingusan anak raja Jawa.

Stop Gibran stop Prabowo stop keduanya karena tak ada harapan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat di bawah pemerintahan mereka.

Mereka tidak berbuat untuk rakyat melainkan rakyat yang terpaksa memikirkan nasib mereka sendiri.

Keduanya bersama para politisi busuk lain kini menjadi beban berat bagi rakyat Indonesia.

Wajar jika para dokter tengah bersiap-siap di ruang operasi untuk melakukan amputasi.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung