Repelita Jakarta - Insiden penyerangan Markas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada Minggu, 29 Maret 2026, yang menewaskan tiga anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) memicu desakan tegas dari politisi untuk melarang pemegang paspor Israel masuk ke Indonesia.
Politikus PAN dan anggota DPRD DKI Jakarta, Lukmanul Hakim, mengungkapkan bahwa pemerintah harus mengambil sikap tegas atas penyerangan yang mengakibatkan gugurnya tiga prajurit TNI dan melukai lima lainnya tersebut.
ADVERTISEMENT
Ia menegaskan bahwa sebagai negara berdaulat, Indonesia memiliki kewenangan penuh untuk memberikan respons yang setimpal terhadap tindakan agresi yang menimpa personel pasukan perdamaian.
"Kami memohon kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah tegas atas kejadian penyerangan Markas Pasukan Penjaga Perdamaian. Itu pelanggaran berat, karenanya tidak berlebihan kalau kita sebagai negara berdaulat memberikan respons yang sepadan dengan menangkal para pemegang paspor Israel masuk ke Indonesia," katanya dalam keterangan pers pada Kamis, 2 April 2026.
Lukman menambahkan bahwa respons tegas adalah sikap yang bijaksana mengingat Indonesia adalah negara besar yang tidak seharusnya diam saja ketika mengalami luka akibat tindakan agresi asing.
Dalam insiden tersebut, tiga personel TNI yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.
Sementara lima prajurit lainnya yang mengalami luka-luka adalah Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, Praka Arif Kurniawan, Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana, dan Praka Deni Rianto.
Markas Besar TNI menyatakan proses pemulangan jenazah ketiga prajurit yang gugur ditargetkan selesai paling lambat pada Sabtu, 4 April 2026, sedangkan para prajurit yang terluka saat ini mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Lukmanul Hakim juga mengapresiasi upaya Mabes TNI dan pemerintah yang telah memberikan kenaikan pangkat luar biasa militer selain perang (KPLB OMSPA) satu tingkat kepada tiga prajurit yang gugur.
Selain itu, santunan sebesar Rp1,8 miliar yang mencakup tabungan asuransi, risiko kematian, dan beasiswa untuk anak-anak mereka juga telah disalurkan kepada keluarga almarhum.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) turut menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI dan luka yang dialami lima lainnya dalam menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
Ketua Baznas, Sodik Mudjahid, menilai pengorbanan para prajurit tersebut sebagai bentuk dedikasi yang tinggi dalam menjaga perdamaian dunia di tengah konflik yang berkecamuk.
"Prajurit yang gugur saat menjaga perdamaian dunia, membela negara, mempertahankan kehormatan bangsa dianggap mati syahid," jelas Sodik dalam pernyataannya.
Dia menambahkan bahwa pengorbanan tersebut menjadi teladan dan kehormatan bagi seluruh bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Baznas juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung perjuangan kemanusiaan, termasuk bantuan bagi rakyat Palestina yang saat ini tengah menghadapi tekanan berat.
"Baznas dengan dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia akan terus memberikan dukungan dan bantuan kepada perjuangan rakyat Palestina," bebernya panjang lebar.
Sodik turut mendoakan agar almarhum mendapat husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok