Berita, Internasional

Perusahaan Drone Putra-Putra Trump Jajaki Penjualan Senjata ke UEA di Tengah Ketegangan Iran

Repelita.net

02 April 2026 23:26 WIB • 1,072 view

Perusahaan Drone Putra-Putra Trump Jajaki Penjualan Senjata ke UEA di Tengah Ketegangan Iran
Foto: Istimewa

Repelita Abu Dhabi - Ketegangan di kawasan Teluk yang terus meningkat tidak hanya mencakup jalur diplomasi dan militer, tetapi juga membuka peluang bisnis pertahanan bernilai besar bagi sejumlah perusahaan.

Di tengah ancaman yang terus berkembang dari Iran, sebuah perusahaan drone asal Amerika Serikat yang didukung oleh putra-putra Donald Trump dilaporkan mulai menjajaki penjualan sistem persenjataan ke Uni Emirat Arab (UEA).

ADVERTISEMENT

Perusahaan bernama Powerus itu disebut telah mengadakan pembicaraan dengan sejumlah pejabat di Abu Dhabi terkait kemungkinan penjualan senjata dan teknologi drone canggih.

Langkah bisnis ini muncul pada saat UEA tengah berupaya keras memperkuat sistem pertahanannya di tengah eskalasi konflik regional yang semakin sulit untuk diprediksi arahnya.

Powerus yang berbasis di Florida bukanlah satu-satunya pemain yang sedang memburu pasar pertahanan di kawasan Teluk yang menguntungkan.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah perusahaan drone juga aktif mendekati negara-negara kawasan tersebut seiring dengan melonjaknya kebutuhan terhadap sistem tempur dan perlindungan udara modern.

Meskipun demikian, pembicaraan antara Powerus dan otoritas UEA disebut belum menghasilkan kesepakatan final atau kontrak yang mengikat.

Proses negosiasi yang berlangsung saat ini masih berada pada tahap awal dan belum mengarah pada penandatanganan kontrak resmi antara kedua belah pihak.

Situasi ini menunjukkan secara jelas bagaimana konflik yang melibatkan Iran telah mengubah peta kebutuhan militer di seluruh kawasan Timur Tengah.

Salah satu kekhawatiran utama negara-negara di kawasan adalah penggunaan drone murah oleh Iran yang dinilai sangat efektif dalam menciptakan strategi tekanan militer.

Drone berbiaya rendah itu menjadi tantangan serius bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya karena ketimpangan biaya yang signifikan.

Untuk menjatuhkan satu drone murah, sistem pertahanan lawan sering kali harus menggunakan rudal pencegat yang harganya jauh lebih mahal hingga berkali-kali lipat.

Ketimpangan biaya ini membuat perang udara modern menjadi semakin kompleks, rumit, dan mahal bagi negara-negara yang menjadi target serangan.

Kondisi itulah yang kini menciptakan peluang besar bagi perusahaan seperti Powerus untuk menawarkan solusi alternatif di pasar.

Mereka menawarkan solusi sistem anti-drone yang diklaim lebih murah dan efisien untuk menangani serangan model "kamikaze" yang kini banyak digunakan dalam konflik modern.

Awal bulan ini, Powerus meluncurkan produk pencegat terbaru bernama Guardian-1 yang dirancang khusus untuk menghentikan drone bunuh diri.

Sistem ini termasuk efektif untuk menangkal tipe drone seperti Shahed-136 yang kerap dikaitkan dengan Iran dalam berbagai konflik regional yang terjadi.

Selain secara agresif menggarap pasar pertahanan di Timur Tengah, Powerus juga tengah menyiapkan langkah-langkah ekspansi besar di bursa saham Amerika Serikat.

Perusahaan tersebut berencana untuk melantai di pasar publik melalui skema merger dengan sebuah perusahaan lapangan golf yang telah terdaftar di Nasdaq.

Langkah ekspansi strategis itu juga menampilkan keterlibatan langsung keluarga Donald Trump dalam sektor teknologi pertahanan yang sedang berkembang pesat.

Donald Trump Jr. dan Eric Trump termasuk di antara para investor yang menanamkan modal dalam bisnis baru tersebut melalui dana investasi American Ventures.

Keduanya selama ini dikenal aktif menanamkan modal di sektor drone dan disebut memiliki portofolio hampir satu miliar dolar AS di perusahaan-perusahaan teknologi sejenis.

Pada saat yang sama, mereka juga tetap memegang peran kepemimpinan di organisasi bisnis keluarga Trump yang sudah mapan.

Keterlibatan Donald Trump Jr. dalam bisnis pertahanan ini tidak terlepas dari sorotan tajam politik di dalam negeri Amerika Serikat.

Sejumlah lawan politik menilai bahwa kedekatan keluarga Trump dengan sektor militer berpotensi menimbulkan konflik kepentingan yang serius.

Salah satu kritik paling keras datang dari Senator AS Elizabeth Warren yang menyoroti kemungkinan adanya perlakuan istimewa dalam proses pemberian kontrak pemerintah.

“Kontrak diberikan secara adil kepada perusahaan berdasarkan kebutuhan keamanan nasional dan perlindungan kita — atau hanya berdasarkan kepentingan finansial keluarga presiden?” tulis Warren dalam suratnya.

Di sisi lain, Powerus juga terus memperkuat kredibilitas perusahaannya dengan menggandeng sejumlah tokoh senior militer Amerika Serikat sebagai dewan penasihat.

Di antaranya adalah Jenderal Charles Q. Brown dan Jenderal Letnan (Purn.) Keith Kellogg yang memiliki pengalaman luas di bidang pertahanan.

Kehadiran nama-nama besar itu menunjukkan bahwa persaingan industri drone tidak hanya sekedar soal inovasi teknologi semata.

Persaingan ini juga sangat ditentukan oleh pengaruh politik, jaringan koneksi, serta momentum geopolitik yang tepat.

Jika konflik dengan Iran terus memanas, pasar drone dan sistem anti-drone diperkirakan akan menjadi salah satu sektor pertahanan yang paling diminati di dunia.

Di tengah perlombaan global itu, Powerus nampaknya ingin menempatkan dirinya dengan percaya diri di garis depan industri ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung