Repelita Tel Aviv - Perang yang berkepanjangan di Gaza dan berbagai front lainnya telah menghancurkan mental prajurit Israel, di mana angka bunuh diri di kalangan militer Zionis meroket hingga mencapai rekor tertinggi dalam 15 tahun terakhir .
Investigasi media Israel Haaretz yang dipublikasikan pada Ahad (26/4/2026) mengungkapkan peningkatan tajam kasus bunuh diri di kalangan pasukan keamanan, dengan setidaknya 10 tentara aktif mengakhiri hidup mereka sejak awal tahun 2026 .
ADVERTISEMENT
Pada bulan April 2026 saja, delapan tentara dan personel polisi yang masih bertugas aktif tewas karena bunuh diri, bersama dengan tiga tentara cadangan yang ikut serta dalam genosida Gaza serta dua petugas polisi .
Tren bunuh diri ini mengalami eskalasi luas sejak 7 Oktober 2023, dengan tujuh kasus bunuh diri pada akhir tahun 2023, 21 kasus pada tahun 2024, dan 22 kasus pada tahun 2025 yang merupakan angka tertinggi dalam kurun waktu 15 tahun terakhir .
Laporan tersebut menghubungkan lonjakan ini dengan tekanan psikologis yang semakin berat akibat genosida yang berkepanjangan di Gaza, berkurangnya sistem pendukung kesehatan mental, serta kegagalan sistemik dalam penanganan trauma prajurit .
Sumber daya kesehatan mental militer Israel dilaporkan telah menurun drastis, dengan program dekompresi psikologis untuk tentara cadangan dibatalkan dan beberapa tentara diberhentikan tanpa pernah bertemu ahli kesehatan mental .
Kehadiran petugas kesehatan mental di lapangan juga berkurang, sementara para komandan sering menekan bawahan untuk terus bertugas meskipun kondisi psikologis mereka sedang tidak sehat .
Jumlah tentara yang menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) parah telah meningkat sebesar 40 persen sejak tahun 2023, menurut sumber di militer Israel .
Pada tahun 2024 dan 2025, setidaknya 75 persen dari seluruh kasus bunuh diri di kalangan warga Israel adalah tentara yang baru kembali dari genosida di Gaza .
Sejak dimulainya genosida di Gaza pada Oktober 2023, rezim Israel telah membunuh sedikitnya 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 lainnya, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak yang tidak berdosa .
Pada Oktober 2025, Kepala Staf Israel Eyal Zamir secara terbuka mengakui adanya krisis kesehatan mental yang memburuk di kalangan tentara dan mengakui bahwa ribuan personel saat ini menerima perawatan psikologis intensif .
Hampir 10.000 tentara Israel dari 19.000 orang yang terluka di Gaza menderita gangguan psikologis seperti PTSD dan sedang dirawat di Departemen Rehabilitasi Kementerian Pertahanan Israel .
Para analis menggambarkan kondisi ini sebagai "puncak gunung es" dari krisis mendalam yang melanda angkatan bersenjata Zionis sejak perang genosida dilancarkan di Gaza .
Para pengamat memperingatkan bahwa krisis mental di tubuh militer Israel tidak dapat diatasi melalui langkah-langkah jangka pendek, melainkan membutuhkan perubahan fundamental dalam sistem pendukung kesehatan mental .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok