Berita, Internasional

Media Israel Sebut Dilema Trump: Telan Pil Pahit Kesepakatan Politik atau Terjebak Perang Melelahkan yang Menguras Biaya

Repelita.net

07 May 2026 19:29 WIB • 748 view

Media Israel Sebut Dilema Trump: Telan Pil Pahit Kesepakatan Politik atau Terjebak Perang Melelahkan yang Menguras Biaya
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Sebuah laporan dari media Israel, Haaretz, yang dikutip oleh Al Mayadeen pada Kamis (7/5/2026) mengungkap bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini diperhadapkan pada kekeliruan strategi yang berakibat fatal.

Media tersebut menilai bahwa Trump tengah terperosok dalam pertarungan yang sulit untuk dimenangkan melawan musuh yang dinilai sangat licik dan ulet.

ADVERTISEMENT

Haaretz mengklaim bahwa untuk pertama kalinya dalam perjalanan hidupnya, presiden AS itu tidak dapat mengelak dari tanggung jawab penuh atas kesalahan perhitungan besar yang ia buat.

Surat kabar Zionis itu menulis keras bahwa Trump saat ini harus membayar mahal pilihan buruk yang ia ambil.

"untuk pertama kalinya dalam hidupnya membayar harga penuh atas keputusan buruk dan merasa sulit untuk memahami bahwa dia tidak akan bisa menghindari tanggung jawab," tulis Haaretz dalam analisisnya yang tajam.

Situasi pelik ini dialami Trump setelah lebih dari dua bulan berturut-turut berusaha keras menjinakkan perlawanan Iran.

Konflik berubah menjadi jalan buntu ketika ia berhadapan dengan musuh yang disebut Haaretz sebagai entitas keras kepala sekaligus licik.

"dua bulan upaya untuk menundukkan Iran dalam pertempuran buntu melawan musuh yang keras kepala dan licik yang tidak mengenal rasa takut dan tidak tunduk pada perintah," demikian pernyataan media Israel tersebut.

Menurut Haaretz, Trump kini terperangkap di antara dua pilihan sulit yang sama-sama tidak menguntungkan baginya.

Di satu sisi ia membidik citra sebagai pemimpin global besar, namun di sisi lain ia harus menjaga popularitas di mata publik Amerika.

Kemenangan kilat yang dulu diyakini Trump akan mudah diraih ternyata kandas, sehingga kini hanya menyisakan dua opsi pahit.

Opsi pertama adalah menelan pil pahit dengan menerima kesepakatan politik yang penuh konsesi dari pihak lawan.

Pilihan satunya lagi adalah terus melanjutkan perang yang panjang, melelahkan, dan menguras biaya sangat besar.

Haaretz memperingatkan bahwa perang berkepanjangan itu berisiko membawa Trump ke titik kebencian publik, sebagaimana yang dialami mantan Presiden George W. Bush.

Lebih jauh lagi, media Israel tersebut menegaskan bahwa konflik dengan Iran sejatinya adalah perang pilihan semata, bukan karena darurat militer.

Trump tidak menghadapi ancaman langsung terhadap keamanan Amerika Serikat ketika ia memutuskan untuk melancarkan serangan.

Ia disebut percaya bahwa serangan singkat dan brutal akan cukup untuk meruntuhkan pemerintahan Iran dan mencatatkan pencapaian monumental bagi sejarah kepemimpinannya.

Namun realitas berkata lain, strategi itu justru menjadi bumerang besar yang membuatnya tak berdaya melawan Iran yang keras kepala.

Haaretz juga mengulas bahwa sebelum perang meletus, komentator konservatif Tucker Carlson sempat memberi peringatan agar Trump tidak nekat melancarkan serangan.

Sayangnya, presiden AS itu tetap pada keyakinannya bahwa segala sesuatu akan berjalan baik seperti biasanya karena ia selalu beruntung.

Kini untuk pertama kalinya, Trump harus menghadapi konsekuensi penuh dari keputusan politiknya sendiri tanpa ada yang bisa menyelamatkannya.

Tak ada pengaruh besar, tak ada kekayaan melimpah, maupun bantuan tim hukum andal yang mampu mengubah situasi ini.

Ia pun terus berupaya mencari jalan keluar dari perang melalui ancaman-ancaman baru, janji-janji manis, serta harapan politik yang rapuh.

Haaretz menyoroti bahwa Trump sangat kesulitan menerima realitas pahit ini karena seluruh hidupnya terbiasa menghindar dari akibat perbuatan.

Ia terbiasa membentuk realitas sesuai keinginannya, termasuk ketika berbagai laporan investigasi menyebutnya kerap melanggar hukum dan mengingkari kesepakatan bisnis di masa lalunya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung