Repelita Washington DC - Hanya beberapa jam setelah mengancam akan "mengakhiri peradaban" Iran, Presiden Donald Trump mengumumkan kesediaan menangguhkan serangan selama dua minggu.
Berikut lima alasan utama di balik keputusan dramatis tersebut:
ADVERTISEMENT
1. Ancaman Ekonomi yang Semakin Mengerikan
Para analis menyebut Trump sangat ketakutan dengan dampak ekonomi perang, terutama karena Iran menguasai Selat Hormuz yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Alan Eyre, peneliti senior di Middle East Institute, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa presiden menyadari ia harus menyatakan kemenangan dan menghentikan perang sebelum kerusakan ekonomi semakin parah.
"Kita beruntung dia tidak mewujudkan ancaman menghancurkan Iran kembali ke zaman batu," ujar Eyre seraya menilai skenario terbaik saat ini adalah Trump mengklaim kemenangan sambil memperbaiki kekacauan.
2. Tekanan Pemakzulan yang Semakin Kuat
Ancaman genosida yang dilontarkan Trump memicu gelombang kemarahan di dalam negeri, di mana anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez kembali menyerukan pemakzulan terhadap presiden.
"Presiden telah mengancam genosida terhadap rakyat Iran dan terus memanfaatkan ancaman itu. Kita tidak bisa lagi mempertaruhkan dunia maupun kesejahteraan bangsa kita," tulis AOC di platform X.
Puluhan anggota parlemen Demokrat lainnya juga mempertahankan sikap mereka bahwa Trump harus dicopot dari jabatannya karena dianggap membawa negara bermain di ambang kehancuran.
3. Tidak Ada Pilihan yang Lebih Baik
Pakar kebijakan luar negeri Trita Parsi dari Quincy Institute menilai Trump terpaksa menerima gencatan senjata karena tidak memiliki pilihan yang baik, mengingat perang yang lebih luas akan menghancurkan kepresidenannya.
Menurut Parsi, eskalasi lebih lanjut berisiko memicu serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk yang bisa menyebabkan krisis energi jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Ia menambahkan bahwa ancaman keras Trump pagi tadi hanyalah cara untuk memberi kesan bahwa kesepakatan dilakukan sesuai syaratnya, padahal negosiasi justru didasarkan pada proposal 10 poin dari Iran.
4. Kemenangan yang Diklaim AS: Selat Hormuz Dibuka Kembali
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut gencatan senjata sebagai keberhasilan besar yang diciptakan oleh Trump dan militer Amerika dalam kurun waktu 38 hari.
"Keberhasilan militer kita menciptakan pengaruh maksimal," katanya seraya menegaskan bahwa Trump berhasil membuka kembali Selat Hormuz sebagai tujuan utama operasi militer.
Sementara itu, Iran menyatakan menerima gencatan senjata dua minggu karena hampir semua tujuan perang telah tercapai, dan akan melanjutkan negosiasi di Islamabad.
5. Harga Minyak Langsung Meroket Turun, Pasar Bernapas Lega
Pasar keuangan langsung bereaksi positif dengan harga minyak mentah berjangka AS turun sekitar 16 persen menjadi 94,59 dolar AS per barel setelah berita gencatan senjata diumumkan.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang melonjak sekitar 5 persen dan Kospi Korea Selatan naik 6 persen hingga memicu penghentian perdagangan sementara akibat euforia pasar.
Namun analis Alex Holmes dari Economist Intelligence Unit mengingatkan agar tidak terlalu yakin karena masih ada kesenjangan besar yang harus dijembatani dalam negosiasi kedua belah pihak.
Meski turun, harga minyak saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan akhir Februari sebelum konflik dimulai.
Iran Klaim Kemenangan
Sebelumnya diberitakan, Iran mengklaim kemenangan perang melawan Amerika Serikat dan Israel setelah 40 hari perang yang ditandai dengan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengklaim telah memaksa Amerika Serikat menerima proposal 10 poinnya yang mencakup pencabutan semua sanksi serta penarikan pasukan tempur AS dari kawasan.
"Iran telah meraih kemenangan besar dan telah memaksa Amerika yang kriminal untuk menerima proposal 10 poinnya sendiri," demikian bunyi pernyataan resmi dari otoritas tertinggi Iran yang dilansir Press TV.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok