Berita, Ekonomi

Likuiditas Rp10.253 Triliun Melimpah, BI Minta Bank Jangan Naikkan Bunga Kredit Meski Pertumbuhan Uang Beredar Melambat

Repelita.net

23 May 2026 18:15 WIB • 908 view

Likuiditas Rp10.253 Triliun Melimpah, BI Minta Bank Jangan Naikkan Bunga Kredit Meski Pertumbuhan Uang Beredar Melambat
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Bank Indonesia mengumumkan potret kondisi likuiditas finansial nasional atau jumlah uang beredar dalam arti luas pada periode April 2026 telah menyentuh akumulasi nominal sebesar Rp10.253,7 triliun.

Walaupun indikator makro ekonomi tersebut tetap menunjukkan performa ekspansi yang positif di angka 9,2 persen jika ditinjau secara tahunan, rapor ini mencerminkan adanya perlambatan jika disandingkan dengan capaian pertumbuhan pada bulan Maret 2026 yang sempat menembus level 9,7 persen yoy.

ADVERTISEMENT

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso memaparkan bahwa dinamika pergerakan komponen M2 tersebut dipicu oleh laju pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit sebesar 13,6 persen yoy serta instrumen uang kuasi yang tumbuh di level 4,7 persen yoy.

“Perkembangan M2 pada April 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit,” ujar Denny memberikan pemaparan resmi terkait rilis data keuangan negara.

Berdasarkan tinjauan data statistik bank sentral, instrumen tagihan bersih kepada pihak otoritas fiskal pusat menorehkan pertumbuhan di angka 38,6 persen yoy atau sedikit melandai dari capaian bulan sebelumnya yang kokoh di posisi 39,1 persen yoy.

Di sisi lain, aktivitas pembiayaan atau penyaluran kredit perbankan komersial pada bulan April 2026 melaju positif di level 9,4 persen yoy atau tercatat mengalami percepatan jika dibandingkan performa bulan Maret yang tertahan pada angka 8,9 persen yoy.

Merespons perkembangan dinamika pasar domestik serta adanya kebijakan penyesuaian suku bunga acuan BI-Rate sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan instruksi khusus kepada jajaran manajemen perbankan tanah air.

Dirinya mendesak seluruh pelaku industri perbankan nasional untuk memaksimalkan langkah-langkah efisiensi operasional internal korporasi mereka agar tidak terburu-buru mengerek naik tingkat suku bunga pembiayaan bagi sektor riil.

“Kami meminta bank-bank juga meningkatkan efisiensi supaya jangan menaikkan suku bunga kredit. Efisiensi harus ditingkatkan supaya betul-betul mendorong kredit,” tegas Perry demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Orang nomor satu di bank sentral tersebut memberikan jaminan bahwa ketersediaan dana segar di pasar uang maupun jaringan perbankan domestik saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat berlimpah.

Ketahanan pasokan modal di pasar keuangan ini ditopang erat oleh kebijakan intervensi bank sentral yang secara konsisten melakukan aksi borong instrumen Surat Berharga Negara di pasar sekunder dengan total nilai mencapai Rp140,57 triliun semenjak awal tahun hingga pertengahan bulan Mei.

Bukan hanya itu, indikator rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga pada industri perbankan juga dilaporkan masih bertahan di batas aman yang cukup tinggi yakni bertengger pada level 25,39 persen seiring perolehan pertumbuhan dana nasabah sebesar 11,39 persen yoy.

Berbekal fundamental ketahanan modal yang dinilai sangat solid tersebut, otoritas moneter optimis memasang proyeksi bahwa penyaluran dana pinjaman sepanjang tahun ini akan terus melaju di jalur ekspansif pada rentang angka 8 persen hingga 12 persen.

Sebagai data pelengkap per April 2026, catatan rata-rata suku bunga pembiayaan komersial nasional berada di level 8,73 persen, sementara untuk rata-rata imbal hasil simpanan berjangka tenor satu bulan berada pada posisi 4,16 persen.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung