Berita, Nasional

Kritik Wawancara Bocor Alus Tempo Dengan Jokowi Yang Dinilai Kurang Tajam Mengejar Klaim Demokrasi

Repelita.net

10 September 2026 23:00 WIB • 339 view

Kritik Wawancara Bocor Alus Tempo Dengan Jokowi Yang Dinilai Kurang Tajam Mengejar Klaim Demokrasi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kanal YouTube TV Anak Bangsa menyoroti wawancara salah satu program liputan investigasi jurnalisme dengan Presiden Joko Widodo yang dinilai memicu banyak perhatian publik.

Dalam tayangan tersebut, narasumber menilai bahwa program khusus dari para jurnalis senior itu sebenarnya menduduki posisi nomor satu dalam menyampaikan laporan yang sinis, kritis, lembut, namun tetap menampilkan fakta tajam.

ADVERTISEMENT

Narasumber mengagumi gaya penulisan sastrawi berkisah atau literary writing style yang disajikan karena mampu memberikan cara pandang khusus yang mempesona bagi para pendengar dan pembaca setianya.

Meskipun memuji karakter kritis serta keberanian para jurnalis muda tersebut, narasumber memberikan catatan kritis mengenai beberapa poin pertanyaan yang diajukan kepada Kepala Negara saat sesi wawancara berlangsung.

Beberapa pertanyaan dinilai terlalu periferal atau berada di pinggiran dan bukan menyentuh hal sentral, salah satunya ketika menanyakan tanggapan Presiden terkait peta politik pemilu 2029 serta posisi Gibran.

Pernyataan Presiden yang menyebutkan bahwa urusan pemilu adalah murni pilihan rakyat dalam sistem demokrasi dianggap narasumber sebagai jawaban hafalan yang seharusnya dikejar lebih dalam oleh jurnalis.

Narasumber menyayangkan mengapa tim jurnalis tidak mematok atau mengejar klaim tersebut dengan argumen analisis bahwa kemenangan politik selama ini lebih banyak ditentukan oleh fungsi dan kerja mesin partai.

Kegagalan total Kepala Negara dalam mendongkrak perolehan suara partai kecil yang didukungnya secara terbuka menjadi bukti otentik bagi narasumber bahwa pengaruh popularitas pribadi tidak sekuat yang dibayangkan.

Kritik tajam juga diarahkan pada momen ketika tim jurnalis justru terlihat mengagumi jawaban normatif seputar demokrasi tersebut, yang disebut narasumber mengubah ketajaman berita menjadi bocor gembrojok.

Pertanyaan mengenai keaslian ijazah dalam interviu tersebut bahkan disebut sebagai pertanyaan paling naif karena tim jurnalis dinilai tidak mendesain wawancara berdasarkan penelusuran media sosial yang paling tajam.

Menurut narasumber, wawancara investigatif semestinya berpijak pada suara publik yang paling gencar menyerang demi menjaga momentum kontrol sosial serta independensi kemerdekaan berpikir para jurnalis itu sendiri .(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung