Berita, Timur Tengah

Ketua Parlemen Iran Klaim 7 Juta Warga Siap Angkat Senjata Lawan AS: Kau Datang ke Rumah Kami, Kau akan Bertemu Seluruh Keluarga

Repelita.net

03 April 2026 23:02 WIB • 1,159 view

Ketua Parlemen Iran Klaim 7 Juta Warga Siap Angkat Senjata Lawan AS: Kau Datang ke Rumah Kami, Kau akan Bertemu Seluruh Keluarga
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan pernyataan paling berani sejak konflik dengan Amerika Serikat dimulai dengan mengklaim bahwa 7 juta warga Iran telah menyatakan kesiapan mereka untuk mengangkat senjata.

Kami bukan pembuat perang, tetapi ketika saatnya tiba untuk membela tanah air kami, setiap orang dari kami menjadi seorang prajurit, tegas Ghalibaf dalam sebuah pernyataan yang viral di media sosial X pada Kamis (2/4/2026).

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Pentagon sedang menyusun rencana untuk operasi darat terbatas di Iran meskipun Presiden Donald Trump sebelumnya berulang kali menyatakan tidak ingin mengirim tentara AS.

Dalam pesan yang dikirimkan melalui platform X, Ghalibaf tidak hanya menyampaikan angka 7 juta relawan tetapi juga menyertakan peringatan keras yang tampaknya ditujukan langsung kepada Presiden Trump.

Kau datang ke rumah kami, maka kau akan bertemu seluruh keluarga, ujar Ghalibaf.

Pernyataan ini sering diparafrasekan secara online menjadi kalimat yang lebih lugas dan provokatif: kau datang ke rumah kami, kau akan bertemu seluruh keluarga, siap tempur dan berdiri tegak, ayo hadapi aku.

Ghalibaf menjelaskan bahwa dalam waktu kurang dari seminggu, kampanye nasional yang kuat telah berhasil mengumpulkan jutaan warga yang menyatakan kesiapan mereka.

Saat ini, dalam waktu kurang dari seminggu, kampanye nasional yang kuat yang melanda seluruh negeri telah memunculkan sekitar 7 juta warga Iran yang telah maju dan menyatakan mereka siap untuk mengangkat senjata, tulis Ghalibaf di X.

Pernyataan Ghalibaf ini diperkuat dengan pengalaman pribadinya karena ia mengaku telah berperang sejak usia 18 tahun.

Ia kehilangan adik laki-lakinya serta beberapa teman dekat selama perang delapan tahun melawan Irak pada era 1980-an.

Biar saya katakan sesuatu yang jujur dari hati: rakyat Iran tidak hanya bicara soal membela negara, kami berdarah-darah untuk itu, tegasnya.

Kami sudah melakukannya sebelumnya dan kami siap melakukannya lagi, tambah Ghalibaf.

Peringatan Ghalibaf bukanlah yang pertama karena sejak eskalasi konflik pada 28 Februari 2026, para pemimpin Iran secara konsisten mengirimkan sinyal bahwa mereka tidak gentar dengan ancaman invasi darat.

Pekan lalu dalam sebuah pernyataan yang lebih keras, Ghalibaf mengatakan bahwa musuh secara publik mengirimkan pesan negosiasi tetapi diam-diam merencanakan serangan darat.

Orang-orang kami sedang menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka dan menghukum sekutu regional mereka sekali dan untuk selamanya, ujarnya saat itu.

Pernyataan membakar mereka ini menunjukkan bahwa Iran mungkin telah mempersiapkan jebakan atau strategi perang asimetris untuk menghadapi pasukan darat AS.

Di sisi lain sinyal dari Washington terlihat kontradiktif karena Presiden Trump pada Selasa (31/3/2026) justru memberi isyarat bahwa AS akan segera mengakhiri serangan militernya terhadap Iran.

Kami akan segera pergi, kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih dengan memperkirakan penarikan akan terjadi dalam dua hingga tiga minggu.

Namun laporan dari The Washington Post menyebutkan bahwa Pentagon telah menyusun rencana untuk operasi darat selama berminggu-minggu.

Rencana tersebut dikabarkan akan berhenti pada operasi kilat di target-target spesifik seperti Pulau Kharg yang merupakan terminal ekspor minyak utama Iran.

Sekretaris Negara AS Marco Rubio juga menolak untuk secara kategoris mengesampingkan pengerahan pasukan darat dengan mengatakan bahwa beberapa pasukan dikirim untuk memberi Trump fleksibilitas strategis yang maksimal.

Pernyataan Ghalibaf tentang 7 juta relawan harus dibaca dalam konteks strategi Basij yaitu pasukan paramiliter sukarelawan yang berada di bawah komando Korps Garda Revolusi Islam.

Selama perang Iran-Irak, para komandan Iran mengerahkan gelombang manusia untuk mengimbangi keunggulan teknologi Irak.

Namun pernyataan ini kemungkinan besar adalah senjata psikologis untuk menunjukkan bahwa invasi darat tidak akan pernah bisa dimenangkan dengan mudah.

Ghalibaf juga berusaha membangun narasi bahwa Iran adalah korban yang terancam dengan tuduhan bahwa musuh secara publik mengirimkan pesan negosiasi sambil diam-diam merencanakan serangan darat.

Pulau Kharg menjadi pusat perhatian karena posisinya yang sangat strategis bagi ekonomi Iran.

Jika AS benar-benar menyerang Kharg, maka Iran akan kehilangan kemampuan untuk mengekspor minyak yang akan menghancurkan perekonomiannya.

Oleh karena itu ancaman 7 juta relawan adalah mekanisme pencegahan untuk membuat Amerika Serikat berpikir ulang.

Di tengah retorika yang keras, Ghalibaf juga menyentuh sisi emosional dengan mengenang pengalamannya sebagai veteran perang.

Saya kehilangan adik saya dan kehilangan banyak teman, rasa sakit karena kehilangan itu tidak pernah hilang dari diri seseorang, kenangnya.

Ini adalah upaya untuk membingkai perang potensial bukan sebagai agresi tetapi sebagai tindakan suci untuk membela tanah air.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung