Berita, Nasional

Jokowi Gabung PSI dan ‘Urak-urakan’ di Bandung, Hensa: Isyarat Tak Mau Diremehkan Prabowo

Repelita.net

30 September 2026 23:45 WIB • 93 view

Jokowi Gabung PSI dan ‘Urak-urakan’ di Bandung, Hensa: Isyarat Tak Mau Diremehkan Prabowo
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Keputusan politik luar biasa diambil oleh Mantan Presiden Joko Widodo yang secara resmi memperlihatkan kedekatan serta keterlibatannya di dalam Partai Solidaritas Indonesia.

Langkah strategis ini dipandang bukan sebagai penanda perpecahan hubungan secara terbuka dengan Presiden Prabowo Subianto melainkan sebuah isyarat kemunculan poros baru untuk Pemilu 2029.

ADVERTISEMENT

Melalui tayangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official, pengamat politik nasional Hendri Satrio menjabarkan analisis mendalam mengenai deklarasi keanggotaan tersebut.

Hendri Satrio menilai momentum peresmian yang berlangsung pada bulan September 2026 di wilayah Bandung, Jawa Barat tersebut menyimpan pesan serta perhitungan politik tingkat tinggi.

“Apakah kemudian ini tandanya dia pisah jalan dengan Prabowo? Saya tidak ingin mengatakan pisah jalan, tapi dia sedang membangun jalannya sendiri, jalannya yang baru,” kata Hensa dalam tayangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official.

Menurut pandangan Hendri Satrio, dinamika konstelasi politik nasional belakangan ini ikut melatarbelakangan manuver yang diambil oleh sang mantan kepala negara.

Munculnya wacana perubahan ambang batas parlemen serta derasnya persoalan hukum yang menyerang sang tokoh beserta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu lahirnya sikap tegas ini.

“Kenapa Pak Jokowi kemudian mengumumkan September 2026 ini bahwa dia menjadi bagian dari PSI? Ini karena dia merasa terisolasi. Menurut catatan saya, dia merasa terisolasi, ditinggalkan,” ujar Hensa.

Lebih lanjut, sikap berdiam diri yang ditunjukkan oleh partai-partai di dalam lingkaran koalisi terhadap gelombang tekanan publik disinyalir menjadi faktor pendorong utama.

“Kok bergulir ya kasus ini? Kok enggak ditahan ya? Kok double attack ya? 'Ke saya juga, ke anak saya juga. Kok didiamkan ya? Kok gue enggak dibelain ya?' Dia diserang, merasa diserang menurut saya,” ujar Hensa.

Kondisi tersebut pada akhirnya ikut mengubah konstelasi kerja sama antartokoh bangsa yang sebelumnya berjalan cukup harmonis di pemerintahan.

“Lantas saya pernah bilang, belum saatnya Jokowi dan Prabowo bermusuhan. Tapi dengan adanya isu threshold kemarin, kemudian MK tentang Gibran, saya rasa dia mulai menyadari,” kata dia.

Melalui wadah berlambang mawar tersebut, tokoh asal Surakarta ini dinilai ingin membuktikan kepemilikan modal politik mandiri yang lepas dari bayang-bayang figur lain.

“Dia merasa ingin dilihat sebagai kekuatan baru yang tidak bisa dianggap remeh. Oke, lu bisa mengisolasi gue, tidak ikutan bicarakan threshold, tapi jangan meremehkan saya. Saya punya kendaraan, dan ini bisa jadi kekuatan baru,” tuturnya.

Kendati demikian, Hendri Satrio memaparkan bahwa efek elektoral secara elektabilitas bagi partai tersebut masih memerlukan kajian serta perhitungan matematis yang matang.

“PSI pasti akan diuntungkan dengan itu, tapi apakah kemudian PSI bisa melonjak dengan hadirnya Jokowi? Ya, kita mesti ada hitung-hitungan politik lain,” kata Hensa.

Di samping itu, pemilihan wilayah penyerahan kartu anggota di tanah pasundan dinilai sebagai sebuah simbol komunikasi visual yang diarahkan langsung kepada pemegang kekuasaan tertinggi saat ini.

“Kenapa harus di Bandung pengumumannya? Kenapa harus di Jawa Barat? Jadi dia ingin berkomunikasi ke penguasa hari ini, Pak Prabowo, bahwa saya ada di kandang Anda nih. Ingat lho, Jawa Barat itu kandangnya Pak Prabowo,” ujar Hensa.

Penentuan titik geografis deklarasi ini dinilai memiliki arti politis yang sangat kontras apabila dilaksanakan di basis pemilih tradisional sang mantan presiden.

“Kalau dia mau berhadapan dengan PDI Perjuangan atau Megawati, dia umumkan di Jawa Tengah. Tapi kenapa dia enggak umumkan di Solo? Kalau dia umumin di Solo, pasti dampaknya enggak besar. Tapi ini Jawa Barat, kandangnya Prabowo,” kata dia.

Langkah taktis yang diambil pada akhir kuartal ketiga tahun ini mempertegas adanya penataan ulang formasi demi menjaga posisi tawar yang kuat di masa mendatang.

“Dengan Pak Jokowi mengumumkan dia menjadi anggota PSI, maka dia mengumumkan bahwa jangan remehkan kekuatan baru ini, dan ini adalah kekuatan baru yang siap menandingi kekuatan-kekuatan politik yang sudah ada,” pungkas Hensa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung