Repelita Beirut - Dunia menyaksikan pukulan besar koalisi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam Operasi Roaring Lion yang diluncurkan akhir Maret 2026, namun laporan eksklusif media Israel Haaretz melukiskan gambaran berbeda di Lebanon di mana tentara Israel sedang berdarah-darah dan hampir tidak bisa bernapas lega.
Sebagaimana laporan MTV Lebanon, pasukan Zionis kehabisan amunisi dan berhadapan dengan Hizbullah yang telah bangkit dari keterpurukan berkat ulah tangan dingin Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
ADVERTISEMENT
Pada 28 Maret 2026, sekitar 50 jet tempur Israel menyelesaikan serangan di jantung Teheran menghancurkan markas Organisasi Industri Kelautan Iran, namun serangan itu justru memicu reaksi menyala dari rezim baru Iran.
Pada 1 April 2026, IRGC mengumumkan kelanjutan Operasi Janji Sejati dengan meluncurkan rudal balistik berat Qiam, Emad, dan Qadr menuju Israel, menciptakan sabuk api dari Ramat Gan hingga Holon, Palmachim, dan Bnei Brak di timur Tel Aviv.
Dua juta warga Israel bergegas ke tempat perlindungan menciptakan kekacauan terbesar sejak Perang Yom Kippur, sementara rudal-rudal tersebut tidak hanya menembus langit-langit tetapi juga mitos bahwa Iron Dome mampu menangkal segalanya.
Di Lebanon, IRGC mengerahkan sekitar 100 perwiranya setelah gencatan senjata November 2024 untuk merestrukturisasi Hizbullah menjadi jaringan sel-sel kecil otonom yang sulit dideteksi, sistem pertahanan mosaik yang membuat Hizbullah jauh lebih lincah dan mematikan.
Akibatnya, tekanan multi-front membuat sistem pertahanan udara Israel bekerja ekstra keras melindungi wilayah domestik, sehingga dukungan udara untuk pasukan darat di Lebanon terbagi dan logistik tersendat.
Perang berkepanjangan ditambah kabar serangan rudal yang menghantam kampung halaman di Tel Aviv membebani psikologis prajurit di lapangan, sementara sumber Haaretz menyebut moral pasukan anjlok dan rotasi personel tidak berjalan lancar.
Hingga artikel ini ditulis, tentara Israel di Lebanon selatan masih bertahan namun dengan logistik menipis, moral tergerus, dan musuh yang tidak pernah benar-benar mati, pertanyaan yang menggantung bukan lagi kapan Israel akan menang melainkan berapa lama lagi Israel bisa bertahan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
BREAKING:
— Megatron (@Megatron_ron) April 1, 2026
🇱🇧🇮🇱 Haaretz reports that the Israeli army is barely catching its breath in southern Lebanon and its resources are less than the previous round of fighting pic.twitter.com/pRlr2GRkiD